Hukum Alam: Catatan Perjalanan

Segala kejadian memang selalu menyimpan hukum-hukum alam, bahkan pun pada hal-hal yang paling sederhana, seperti daun meluruh, kulit melepuh, hewan melenguh atau ranting yang merapuh.

 

Kontributor: Akhdian Reppawali

 

Cuaca di tempat ini memang tidak menentu. Mendung tebal, lalu berubah cerah, kembali mendung, dan angin tiba-tiba berhembus kencang, membersihkan jejak-jejak pendaki yang menempel di lereng-lereng berbatu. Ini terjadi hanya dalam waktu singkat.

Sudah hampir sejam lebih saya berada di puncak gunung ini, sendiri. Sekian waktu saya berharap ada pendaki yang akan datang, tapi nampaknya sia-sia. Ini bukan hari dimana orang-orang akan pergi menapaki jalur pendakian. Disamping bukan hari libur, suhu akhir musim dingin masih tersisa, cukup menyiksa bagi mereka yang tidak terbiasa.

Bluff Knoll-Stirling Range, puncak tertinggi di daerah selatan Western Australia. Saat musim dingin mencapai puncaknya, salju kadang terlihat di tempat ini, meski tidak banyak. Dari puncaknya, warna kuning keemasan canola yang tidak lama lagi akan dipanen, terlihat jelas. Membentuk pola seperti kotak-kotak yang beraturan. Sendiri tapi tidak terasa sunyi.

Pelan-pelan saya memetik setangkai bunga liar berwarna merah muda. Saya ingin kelopaknya meluruh kebawah, memberi warna pada dinding-dinding tebing yang suram. Tapi angin tanpa ampun meniup lepas dari genggaman, menerbangkan menuju lahan canola yang sudah berwarna, sungguh tidak adil.

Hari semakin sore, langit semakin pekat, sepertinya sunset tidak akan tampak, ini pertanda bahwa saya harus turun. Puncak Bluff-Knoll butuh sendiri.

Di pertengahan jalan, tiupan angin semakin lirih. Bayang-bayang pohon sudah tidak bergerak. Saya masih memikirkan angin di puncak sana yang berani melawan gaya gravitasi. Dia lebih memilih memberi warna pada canola yang sudah cerah dan membiarkan tebing-tebing granite tetap suram.

Mendadak melintas makhluk hitam, melata seperti ranting, sebesar ibu jari orang dewasa. Seekor ular!. Dia waspada, saya kaget. Reaksi alami dua jenis makhluk yang jarang berinteraksi, penuh kecurigaan. Saya surut, lalu diam, dia tergopoh-gopoh berlalu, tanpa desis. Nampaknya dia tidak bermaksud menganggu perlintasan saya. Seperti saya yang tidak ingin mengusik ketenangannya. Sesederhana itu, dia tidak melawan, mungkin tidak merasa terancam.

Sudah senja saat saya tiba di parkiran. Saya memutuskan kembali ke Perth, menempuh perjalanan beberapa ratus kilometer, sendiri. Sangat jarang kendaraan yang melintas. Saya hanya beberapa kali berpapasan dengan rombongan kangguru yang menyeberang jalan dengan kikuk, sering mereka berhenti di tengah jalan, membuat mobil beberapa kali berderit menahan laju. Rupanya mereka tertarik cahaya lampu kendaraan.

Malam semakin gelap tanpa cahaya bulan. Beberapa kali terlihat meteor melintas-lintas membelah sabuk galaksi bima sakti. Bintang jumlahnya tak terhitung. Mungkin sebagian diantaranya sudah musnah saat pijarnya tiba di koordinat dimana saya terpana, tempat sunyi ditengah padang gandum yang sangat luas.

Sebuah pertunjukan hukum alam. Hukum yang tidak sepenuhnya dimengerti oleh otak kecil saya.

Pastilah hukum ini yang mengatur segala kejadian yang saya saksikan hari ini. Kejadian sebagai sebuah keteraturan urutan peristiwa, ada yang mendahului ada yang didahului. Angin yang mengubah lintasan kelopak bunga menjadi tidak vertikal, berayun-ayun sebelum menjejak kelopak canola. Seekor ular kecil yang berpindah dari satu titik ke titik lain dengan cara melata, tidak dengan meloncat-loncat, sebagaimana seekor kangguru. Lalu ada jutaan, milyaran bahkan mungkin tak terhitung benda-benda langit di luar sana yang setia melintas di garis edarnya. Menajubkan, hukum yang mengatur tentang bagaimana jagad raya dan seluruh isinya berjalan.

Segala kejadian memang selalu menyimpan hukum-hukum alam, bahkan pun pada hal-hal yang paling sederhana, seperti daun meluruh, kulit melepuh, hewan melenguh atau ranting yang merapuh.

Hukum yang sering tak terpikirkan dan terabaikan, justru karena sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Hukum yang seringkali disalahpersepsikan dan dibiarkan menjadi mitos karena kemalasan menjelajah dunia nalar.

Seandainya Isaac Newton tidak pernah mempertanyakan mengapa buah apel jatuh ke tanah, sebuah fenomena yang sudah diterima apa adanya, barangkali hukum gaya gravitasi tidak pernah diformulasikan. Seandainya Ar Razi (Muhammad Bin Zakariya Al-Razi) tidak pernah menggunakan nalarnya menyelami seluk beluk ilmu kedokteran, barangkali penyebab penyakit cacar tetap akan menjadi mitos.

Tengah asyik memikirkan itu semua, terasa hembusan angin yang sangat dingin melintas menyapu wajah, sebentar, hanya sekejap. Tiba-tiba bulu halus di tengkuk saya berdiri tegak dan nalar saya mendadak beku. Saya masih di tengah padang gandum yang sunyi, menjelang dini hari, sendiri.

Begitu banyak fenomena, sebagian sudah dijelajahi dan dipetakan oleh hasil olah pikir. Tapi tidak sedikit yang masih menjadi misteri, menunggu untuk dieksplorasi.

Ditengah gulita dan pikiran yang berhenti mengalir, saya hanya mampu mengingat kata-kata Al Biruni, sang ilmuwan serba bisa dari abad pertengahan “Penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dari penciptaan alam tersebut kita dapat menyimpulkan keesaan dan keagungan-Nya”

Rasanya begitu…