Pelajaran dari Challenger

Beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar tahun 2011, saya memperoleh surat elektronik dari seorang kawan. Isinya adalah curahan hati dari konon salah seorang calon astronot yang tidak terpilih dalam program Teacher in Space Project itu. Saya sudah lama namanya siapa, sebut saja Jane Doe. Saya tentu saja tidak bisa memverifikasi apakah isinya benar atau tidak, namun yang jelas, menurut saya, kandungannya banyak mengandung pelajaran. Isinya kurang lebih begini.

Kontributor: Kristian Agung Prasetyo 

Jika Anda seusia saya, atau lebih senior, Anda kemungkinan besar pernah mendengar mengenai pesawat ulang-alik Challenger milik NASA. Pesawat ini meledak hanya sekitar satu menit setelah diluncurkan tiga dekade silam, meluluhlantakkan pesawat dan semua astronot yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah Christa McAuliffe, orang sipil pertama yang berangkat ke luar angkasa.

Pada waktu itu, Ronald Reagan mengadakan program yang diberi nama Teacher in Space Project. Dalam program ini, guru-guru akan diberangkarkan ke luar angkasa sebagai astronot sehingga sekembalinya dari sana mereka bisa menceritakan pengalamannya kepada anak didiknya. Tujuannya adalah untuk memberikan inspirasi bagi pada murid dan membangkitkan minat mereka untuk belajar sains. Namun apa lacur, yang terjadi adalah sebaliknya: Challenger meledak berkeping-keping menewaskan seluruh awaknya.

Beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar tahun 2011, saya memperoleh surat elektronik dari seorang kawan. Isinya adalah curahan hati dari konon salah seorang calon astronot yang tidak terpilih dalam program Teacher in Space Project itu. Saya sudah lama namanya siapa, sebut saja Jane Doe. Saya tentu saja tidak bisa memverifikasi apakah isinya benar atau tidak, namun yang jelas, menurut saya, kandungannya banyak mengandung pelajaran. Isinya kurang lebih begini.

Ketika mereka yang lulus menjadi astronot diumumkan, Jane Doe merasa sesak sekali. Dia mau menangis. Dia sudah mengambil cuti selama enam bulan, terpisah dari keluarga dan murid-muridnya, bekerja keras, berlatih keras. Namun apa daya, yang lulus seleksi, dan akan berangkat ke angkasa raya, adalah kawannya, Christa McAuliffe. Hatinya hancur, merasa patah hati, dan ada kepahitan yang luar biasa. Ingin rasanya dia menyalahkan Tuhan. Dia sudah berdoa setiap malam, sudah bekerja keras. Tapi apa imbalannya? Tidak ada. Hanya waktu yang terbuang percuma. Sungguh tidak adil.

Ketika hari peluncuran tiba, tanggal 28 Januari 1986, dia menyaksikan prosesi peluncuran dari kejauhan. Matanya mulai terasa berat. Namun Jane terkesiap ketika menyaksikan pesawat itu meledak berkeping-keping, tidak lama setelah terbang ke angkasa.

“It could’ve been me”, desisnya dalam hati. Sejenak terdiam, Jane merasa bahwa Tuhan sudah menyelamatkannya. Dia memang menyesal, namun perasaan itu lambat laun mulai terkikis.

Belakangan Jane mulai meyakini bahwa kegagalannya dalam Teacher in Space Project bukanlah akhir segalanya. Dia mulai paham bahwa Tuhan itu memang tahu yang terbaik. Kalau kita berdoa, meminta kepada-Nya, maka yang terjadi bisa:

  1.         Apa yang kita minta akan diberikan sesuai permintaan kita, tidak kurang tidak lebih, pada waktu yang kita inginkan.
  2.        Jika Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta pada saat yang kita inginkan, maka Dia akan memberikannya pada lain waktu, pada waktu yang Dia tahu paling tepat untuk kita
  3.       Jika Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta sama sekali, sama seperti yang Jane Doe alami, maka yakinlah bahwa Dia tahu bahwa yang kita minta itu bukanlah yang terbaik untuk kita. Yakinlah bahwa Dia akan mengganti apa yang kita minta itu dengan hal lain yang lebih baik, yang lebih tepat.

 

“It could’ve been me.”

 

Perth, 1 Maret 2016