Syiar dan Pengeras Suara: Antara Lombok dan Perth

Bagaimana dengan syiar Islam di Perth, apakah ada kaitannya dengan pengeras suara juga?. Sebelum membahas pertanyaan tersebut mungkin baiknya saya awali dengan sebuah pertanyaan dari mertua saya saat kami sholat Jamaah dan beliau jadi imam. Pria yang umurnya sudah lebih dari 60 tahun ini dengan semua rambut telah memutih bertanya dengan lirih ‘Di Australia apakah sering terdengar adzan?’ 

 

Kontributor: Joni Safaat Adiansyah

Alhamdulilah kami sekeluarga diberikan kesempatan pulang kampung di bulan Desember 2015 lalu. Seperti biasa satu minggu sebelum terbang ke Lombok pulau dimana saya dilahirkan dan dibesarkan saya akan selalu susah fokus ke hal-hal yang terkait dengan tugas saya selaku mahasiswa PhD. Jadi teringat waktu persiapan mudik tahun 2008 untuk penelitian saat mengambil program Master di Wageningen University Belanda (yang sudah pernah nonton film Negeri Van Oranje pasti familiar dengan Universitas ini..hehehe), hal yang sama terjadi yaitu susah fokus ke urusan studi dan satu lagu yang jadi favorit saya sebelum pulang kampung saat itu adalah lagu Home-nya Michele Bubble..”Another winter day has come and gone away in either Paris or Rome and I wanna go home let me go home”. Maklum saat itu saya tidak membawa serta keluarga dengan beberapa pertimbangan jadilah bergabung di perkumpulan ‘bujang lokal’..hehehe.

Namun saya tidak ingin bercerita tentang Belanda tapi saya ingin bercerita tentang perbandingan ‘rasa’ yang menyelimuti relung hati saya antara syiar Islam di Lombok dan Perth. Pulau kami ‘pulau Lombok’ dengan Gunung Rinjani yang menjulang dikenal dengan sebutan pulau seribu Masjid, kenapa? Karena kita akan mudahnya menemukan Masjid/Mushalla jadi jangan khawatir jika mencari tempat sholat saat berkunjung ke Lombok. 

 Sumber foto: Mataram Epicentrum

 

Saking banyaknya Masjid maka kita akan dengan mudah mendengar adzan yang bersahut-sahutan saat waktu sholat tiba demikian juga dengan saya yang tinggal di daerah yang dikelilingi oleh beberapa Masjid. Para muadzin melalui pengeras (loud speaker) dengan suara merdunya akan melantunkan adzan untuk memanggil sholat berjamaah…terbayang saat Bilal di masa Rasulullah SAW melaksanakan tugas mulia ini. Pada awalnya, adzan dan pengeras suara ini juga menjadi satu daya tarik bagi putra saya (Rafi) yang masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar ikutan ke Masjid untuk sholat berjamaah. Dimulai dengan datang berjamaah kemudian memberanikan diri mendekati pengeras suara untuk melantunkan adzan maupun iqomah. Suara Rafi yang berkumandang memberikan beberapa efek positif lainnya, selain terkenal di kampung tentunya (heheh), yaitu mulai banyak anak-anak yang sebaya dengan Rafi datang ke Masjid dan berani menjadi muadzin. Dengan lantang anak-anak tersebut melantunkan lafaz adzan dan iqomah secara bergantian.

Allahu Akbar Allahu Akbar

Allahu Akbar Allahu Akbar

Asyhadu Alla Illaha Illallaah

Asyhadu Alla Illaha Illallaah

Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah

Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah

Hayya’ Alash Sholaah

Hayya’ Alash Sholaah

Hayya’ Alal Falaah

Hayya’ Alal Falaah

 

Allahu Akbar Allahu Akbar

 

Laa Illaaha Illallaah

 

Kubah Masjid Agung Praya, Lombok Tengah

Apakah ini bisa dikatakan syiar Islam?, saya pribadi beranggapan ini bagian dari syiar Islam khususnya bagi anak-anak karena telah memberikan semangat datang ke Masjid. Tentunya kebiasaan datang ke Masjid ini akan memberikan manfaat ke sikap dan prilaku mereka dan semoga bisa terbawa hingga mereka dewasa.

Bagaimana dengan syiar Islam di Perth, apakah ada kaitannya dengan pengeras suara juga?. Sebelum membahas pertanyaan tersebut mungkin baiknya saya awali dengan sebuah pertanyaan dari mertua saya saat kami sholat Jamaah dan beliau jadi imam. Pria yang umurnya sudah lebih dari 60 tahun ini dengan semua rambut telah memutih bertanya dengan lirih ‘Di Australia apakah sering terdengar adzan?’. Pertanyaan tersebut tidak langsung saya jawab namun saya memberikan ilustrasi dahulu terkait dengan peribadatan umat Islam di Australia, saya gambarkan Masjid Turki, Mushalla Curtin dan tempat sholat lainnya yang pernah saya kunjungi. Bahwa adzan hanya dilakukan didalam dan tidak menggunakan pengeras suara. Terdengar kembali suara lirih dari pria yang tidak pernah lepas dari sholat malam ini  (jadi malu saya yang masih muda ini namun belum konsisten melakukan ibadah Sunnah yang satu ini..hehehe)..’oh begitu ya..sepi rasanya kalo begitu’. Diam-diam saya mengartikan komentar singkat mertua saya sebagai adzan dan pengeras suara menjadi satu paket utuh di Lombok yang bisa diidentikkan dengan syiar Islam.

Tentunya membandingkan Lombok dan Perth dalam hal adzan dan pengeras suara dalam kaitannya dengan syiar Islam adalah sesuatu yang tidak seimbang kalo istilah kerennya ‘not apple to apple comparison’ kenapa harus apel ya? – oppss maaf sudah keluar jalur nih…hehheh. Selain itu terlabel sebagai agama yang bukan mayoritas (umumnya di negara sekuler) tentunya membandingkan syiar Islam di Lombok dan Perth kurang tepat dari sisi manapun. Namun secara pribadi saya lebih melihat beragamnya organisasi Islam masyarakat Indonesia di Perth sebagai bagian syiar Islam itu sendiri. Berbagai pengajianpun bermunculan dari setiap organisasi walaupun ada beberapa yang sudah bersinegi dalam mengadakan pengajian, ada pengajian PPIP, MPP, Kalam, Tarbiyah, Muslimah dan lain-lain. Belum lagi kelompok-kelompok pengajian kecil berupa liqo baik untuk dewasa maupun anak-anak. Jadi kalo di Lombok tidak akan susah menemukan Masjid maka di Perth kita akan mudah menemukan kelompok-kelompok pengajian yang bisa diikuti.

Namun memang menjadi muadzin seperti sesuatu yang sangat dinikmati oleh Rafi anak kedua saya selama berlibur di Lombok bahkan beberapa hari sebelum kami harus kembali ke Perth Rafi sempat mengatakan ‘May I stay in Lombok dan tidak ikut kembali ke Perth?’ dan saya tanyakan Why? Jawaban yang saya dapat dari mulut kecilnya adalah ‘kalo di Perth tidak bisa adzan lagi’ mungkin jawaban ini juga disebabkan karena si kecil yang lincah dan gampang bergaul ini sempat menggondol Juara 2 Lomba Adzan di Masjid kampung kami…hehehh. Anyway, apapun bentuknya syiar Islam tetap saya rasakan di benua Australia khususnya Perth tempat kami tinggal sementara ini.    

Perth, 21 Januari 2016