Pentingnya Niat

Segala perbuatan itu, tergantung pada niatnya. Kita akan mendapatkan berdasarkan yang kita niatkan. Beberapa perbuatan nampak seperti pekerjaan dunia, hakikatnya di sisi Allah adalah pekerjaan akhirat. Di sisi lain, ada perbuatan yang nampak seperti akhirat, sesungguhnya di sisi Allah hanyalah bernilai dunia.

 

 

Kontributor: Moch Abdul Kobir

 

Segala perbuatan itu, tergantung pada niatnya. Kita akan mendapatkan berdasarkan yang kita niatkan. Beberapa perbuatan nampak seperti pekerjaan dunia, hakikatnya di sisi Allah adalah pekerjaan akhirat. Di sisi lain, ada perbuatan yang nampak seperti akhirat, sesungguhnya di sisi Allah hanyalah bernilai dunia. Semua tergantung niatnya.

Banyak perbuatan yang nampak dari luar sama, sesungguhnya nilainya bisa berbeda di sisi Allah yang Maha Kuasa. Dampak dan prosesnya pun bisa berbeda.

Contohnya, Si A bekerja dengan niat semata-mata karena Allah, untuk mencari ridho-Nya. Karena Allah memerintahkan kita untuk menafkahi keluarga, agar sehat dan lebih mudah menjalankan perintah-perintah-Nya. Maka dalam prosesnya, Si A akan menyebut nama Allah saat berangkat kerja dan memuji nama-Nya setelah selesai bekerja. Si A akan memiliki integritas yang tinggi, jujur, memenuhi ketentuan yang berlaku, berkomitmen, beretos kerja tinggi, dan bersungguh-sungguh saat bekerja.

Jika Si A mendapat rejeki yang berlebih, ia akan pergunakan di jalan-jalan yang diridhoi Allah seperti membantu fakir miskin, menyumbang fasilitas umum, memberi kesempatan kerja pada orang lain, dsb . Bukan dikeluarkan di jalan yang dibenci dan dilarang oleh-Nya, seperti: berjudi, berzina, atau minum-minuman keras. Jika Si A tidak berhasil dalam pekerjaannya setelah berusaha sungguh-sungguh, ia berserah diri kepada Allah, tetap optimis serta terus berharap kepada-Nya. Jika Si A dalam perjalanan atau saat bekerja mendapat musibah, maka ia kembali kepada-Nya, syahid nilainya. Di akhir kehidupannya kelak, jika Allah menghendaki, maka Si A akan mendapat balasan surga yang kekal abadi di dalamnya.

Sementara Si B, bekerja diniatkan untuk mendapatkan gaji atau keuntungan semata atau agar dipandang sukses di hadapan manusia. Si C, rajin beribadah agar mendapat pujian dari manusia dan dipandang sebagai orang yang taat beragama. Mereka, sungguh akan memperoleh yang diniatkannya.

Perumpaan di atas, bisa dikembangkan ke dalam hal-hal kekinian seperti kuliah, menikah, memasak untuk keluarga, menulis buku atau status di facebook, berpakaian, mengucapkan selamat, beranjang sana, pengajian, menjadi pemimpin, bersedekah, sholat jamaah, naik haji, dan seterusnya.

Kabar bagusnya, jika kita berniat semata karena Allah, hanya untuk mendapat ridho-Nya, boleh jadi, kita sekaligus akan mendapatkan dunia dan segala isinya. Mendapatkan dua-duanya, jika Allah menghendakinya.

Soal niat ini, hanya kita sendiri dan Allah yang tahu sebenarnya. Mendeteksi niat, sebagai alat instrospeksi diri. Sebagai alat menilai diri sendiri. Bukan untuk menilai orang lain. Sebagai manusia, kita tidak perlu menilai niat orang lain, karena kita bisa salah sangka, bahkan jatuh pada buruk sangka. Hanya prasangka baik yang bisa kita berikan pada orang lain atas seluruh perbuatannya, terlebih untuk perbuatan yang terlihat baik dan tidak terlarang.

Akhirnya, mumpung di awal kalender 2016, mari kita sama-sama introspeksi diri, perbaiki, dan tata niat seluruh amal perbuatan kita. Semata-mata untuk Allah, untuk mendapatkan ridho-Nya. Semoga kita bisa meraihnya.

Aamiin.

Perth, 8 January 2016