Pentingnya Guru Dalam Mempelajari Ilmu (Agama Islam)

Belajar dari buku dan media lainnya sangatlah bagus, tetapi tidak cukup. Contoh ringan saja: silakan cari buku tajwid (tata cara membaca Alquran yang baik dan benar), baca, pahami, hafalkan isinya, tanpa bimbingan guru. Bagaimana kira-kira hasilnya?

 

 

Kontributor: Moch Abdul Kobir

 

 

Dengan makin majunya teknologi, kita melihat fenomena bahwa kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang banyak hal, termasuk ilmu agama, dari Google dan youtube misalnya. Suatu perkembangan yang sangat bagus dan menggembirakan di satu sisi, tetapi juga memiliki kekurangan karena lebih bersifat satu arah. Padahal, pemahaman suatu ilmu, biasanya didapat dari bertanya.

Jika ada hal yang kurang dipahami atau ada pertanyaan terkait informasi yang kita peroleh, kita tidak bisa atau sulit bertanya secara langsung. Jalan keluarnya, biasanya kita mendiskusikan atau bertanya pada teman/orang lain/bukan ahlinya. Padahal, mereka juga boleh jadi bukan orang yang memiliki kepahaman ilmu agama yang memadai dalam hal tersebut. Dalam titik ini, bisa timbul kesalahpahaman dan perdebatan yang tidak perlu. Yang lebih mengkhawatirkan adalah terjadi kesalahan yang sama-sama tidak diketahui oleh kedua belah pihak. Dampak lain perdebatan seperti itu adalah saling mengerasnya hati kedua belah pihak. Yang lebih berat adalah jika ketidakpahaman tersebut sesat dan menyesatkan. Lantas, bagaimana titik tengah atau jalan keluarnya?

Jauh-jauh hari, Nabi Muhammad SAW dan salafus sholih terdahulu telah mengantisipasi hal ini dengan pentingnya guru dalam mempelajari agama Islam. Mempelajari agama Islam itu perlu guru, demikian nabi Muhammad SAW dan ulama-ulama besar terdahulu mengatakan. Nabi bersabda: "Barangsiapa menguraikan Alquran dengan akal pikirannya sendiri tanpa guru dan merasa benar, sesungguhnya ia telah berbuat kesalahan (HR. Ahmad). Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang berkata mengenai Alquran tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di neraka" (H.R. At-Tirmidzi). Imam As-Syafi'i juga berkata: "Barang siapa yang mencoba memahami agama melalui isi kandungan buku-buku maka ia akan menyia-nyiakan hukum atau kepahaman yang sebenarnya. Bahkan, Imam Abu Yazid Al-Bustami ra dalam tafsir Ruhul Bayan mengatakan: "Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya setan." Semoga kita dijauhkan dari hal yang demikian.

Belajar dari buku dan media lainnya sangatlah bagus, tetapi tidak cukup. Contoh ringan saja: silakan cari buku tajwid (tata cara membaca Alquran yang baik dan benar), baca, pahami, hafalkan isinya, tanpa bimbingan guru. Bagaimana kira-kira hasilnya? (Asrofi,2015). Demikian pula untuk topik yang lebih berat, seperti tafsir dan cabang-cabang ilmu lainnya. Kita seringkali masih memerlukan penjelasan yang lebih dalam tentang pernyataan dan informasi yang kita baca. Berdiskusi tentang masalah yang kita tidak pahami tanpa kehadiran orang yang berilmu dan kompeten dalam topik yang dibahas, dapat menyesatkan. Boleh jadi, ada pihak ketiga yang tidak nampak oleh mata kita, yaitu 'setan' yang berusaha menyesatkan kita (Mumpuni, 2015).

Maka sudah benar jika sekolah umum SD sampai dengan S2 kita memakai guru dan dosen. Saat S3, kita perlu pembimbing khusus, 2 orang bahkan. Terlebih, jika kita ingin mempelajari ilmu agama Islam, baik untuk diri sendiri maupun untuk disebarkan pada orang lain. Maka kita perlu berguru pada orang yang berilmu, yang dalam dan luas ilmu dan pemahamannya. Para ulama, karena ulama adalah pewaris para Nabi. Sebagai jalan tengahnya, sebagai salah satu jalan keluarnya. Sebuah kehati-hatian.

Ayo, teruslah mencari ilmu, dari buaian hingga liang lahat.

Hanya Allah yang mengetahui kebenaran segala sesuatu.

 

Perth, 8 Januari 2016