Cermin Akhir Tahun: Inspirasi Diri Mahasiswa, Ibu dan Istri

Melakukan refleksi kadang sama seperti keimanan, ada naik turunnya. Sulit sekali untuk istiqomah dari hal-hal baik yang seharusnya menjadi rutinitas. Refleksi seharusnya juga menjadi kebiasaan, yang ternyata sulit sekali membangun atau menjaga kultur ini.

 

Kontributor: Endah Yanuarti

 

Mataku terpaku pada kalender yang tertempel di kulkas. “Waduh, sudah medio Desember lagi”. Time flies so fast bahasa kerennya. Kalau inget itu, bikin sakit kepala deh, dada berdebar-debar, mirip yang punya penyakit jantung, atau malah orang yang punya salah dan takut ketangkep basah (koruptor punya rasa gitu gak yaaa??)

Memang, bicara itu gampang. Memberitahu orang lain lebih mudah daripada melakukannya. Berteori lebih enteng (meski bacaannya gak mudah juga seh) daripada praktek. Aku yang sering memotivasi orang lain supaya mau berefleksi, mau action, bukan hanya niat, ternyata ya sama juga, perlu motivasi internal yang jauh lebih besar dari sekedar eksternal yang sering diujarkan teman sekamar (halah..disamarkan). Kinerjaku tidak lebih baik dari mereka yang sering sharing denganku, guru-guru kolegaku yang teramat aku hargai dedikasinya.

Kinerja diri bisa diukur melalui self-reflection. Kata mbah Dewey, refleksi itu mengingat kembali aktivitas rutin dan dapat mengarahkan tindakan kita untuk merencanakan tujuan dimasa yang akan datang secara sadar. Yakin deh tiap orang pasti sering melakukan refleksi. Cumaaa, ada yang dilakukan dengan kesadaran diri yang tinggi, supaya tidak terjebak lagi dengan pengalaman yang tidak mengenakkan, dan untuk bekal agar lebih baik lagi. Banyak juga yang tidak sadar bahwa ‘dianya’ melakukan refleksi. Dengan mencatat atau menulis diary, sebetulnya itu sudah refleksi. “Aku juga”, batinku. Tapi memang makin kesini, aku ko kendor ya, gak rajin lagi mencatat apa yang sudah dan akan dilakukan. Dilemma emak-emak yang nekat sekolah lagi (hehehe..).

Nah, mbah Schon malah bilang, ada refleksi yang dilakukan langsung ketika ingat, ada juga yang dipikirkan secara mendalam setelah melakukan sesuatu. Sehingga pemikiran mendalam tersebut dijadikan bahan dasar modifikasi tindakanyang lebih baik dimasa depan. Sama seperti memasak, atau cleaning. Kalau sedang belajar memasak, adaaa aja yang kurang. Setelah dirasa, dan ‘ngeh’ dimana kurangnya, ketika memasak kembali masakan yang sama, dimasukkan tu komponen yang kurang. Beda lagi dengan cleaning, karena ada yang mengontrol dan mengawasi, mau gak mau ada evaluasi dan ada perbaikan. Ada eksternal factor itu seh.

Melakukan refleksi kadang sama seperti keimanan, ada naik turunnya. Sulit sekali untuk istiqomah dari hal-hal baik yang seharusnya menjadi rutinitas. Refleksi seharusnya juga menjadi kebiasaan, yang ternyata sulit sekali membangun atau menjaga kultur ini. Ingat setahun lalu waktu ‘booming’ ODOJ, awal-awal member ODOJ berlomba-lomba melaporkan tilawahnya secepat mungkin setiap hari. Lambat laun banyak yang tidak melaporkan, dan lama-lama berkurang membernya. Itu bisa jadi bahan refleksi buat penyelenggara (termasuk aku juga sebagai member yang ‘on-off’).

Mungkin kejadian yang terjadi di negara tercintaku juga akibat pengabaian refleksi ya. Tidak merefleksi sejarah, menjaga system yang sudah baik (sustainability), tindakan, segala deh. Ranah pendidikan juga tampaknya carut marut (baca: carut). Kenapa bingung menerapkan pendidikan karakter (yang sebelumnya budi pekerti), padahal seharusnya sudah terintegrasi disetiap bidang studi andai setiap guru tersebut sudah paham refleksi. Refleksi bukan sekedar mengingat kembali kejadian-kejadian yang sudah lalu saja sebetulnya, tapi justru bisa melihat jauh kedepan nilai-nilai tiap subjek pelajaran untuk bekal anak didik, manfaat bagi mereka dikemudian hari (yang ini kata pakde Brookfield lho). Betapa dahsyatnya makna refleksi bila kita menyadari kekuatannya.

Refleksi juga artinya melakukan satu tindakan, bila belum dilakukan itu namanya motif (ini kata seseorang, sebutlah dr. Toto yang ketemu disuatu acara). Hmm, kesindir juga neh. Aku masih motif dong nesisnya, belum jadi nulis-nulis chapter, malah nulis yang lain-lain neh (heheheheh).

Sangat manusiawi tampaknya bila kita melakukan refleksi dan juga khilaf sekaligus. Buatku pribadi, ini sebagai pengingat diri sendiri, diujung tanduk masa kuliah yang cukup kritis. Harus lebih focus, meski perhatian terbagi-bagi. Apalagi si kecil yang sudah sangat menyita perhatian (lucu banget seh baby yang satu ini) belum lagi inspeksi rumah yang kejadian tiap 3 bulan sekali. Hadeuuhh… sabar dan ikhlas deh menjalaninya.

Ini renungan akhir tahun lho. Meski banyak sekali tampaknya yang harus aku refleksi sepanjang tahun ini. Tapi cukuplah buatku sebagai pengingat. Mudah-mudahan manfaat juga bagi yang suka intip-intip tulisan orang lain. Maaf ya, kesannya curcol. Tapi ini kenyataan. Yang pasti, aku berharap dan berdoa buat teman-teman seperjuangan, sama-sama kita menjalani dengan ikhlas dan sabar apapun yang terjadi.

Perth, 12 Desember 2015