Dari Asal-Usul Manusia Hingga Sistem Tata Surya

Mungkinkah Adam adalah mahkluk manusia pertama yang diturunkan oleh Allah ke bumi? Adakah yang dimaksud dengan Adam sebagai khalifah adalah khalifah dari Adam-adam sebelumnya? Ataukah Adam hanya merupakan wujud manusia sempurna, sementara mahkluk-mahkluk sebelumnya hanyalah mirip atau memiliki gen yang nyaris sama dengan manusia?

Kontributor: Tubagus Solihuddin 

Dalam obrolan ringan selepas mengikuti pengajian rutin dwi mingguan Perkumpulan Pengajian Indonesia Perth (PPIP) di salah satu sudut ruang Curtin University, salah seorang teman yang sedang menempuh PhD bidang biologi, bercerita tentang penemuan baru manusia purba “Homo naledi” di goa Rising Star Afrika Selatan. Usia maksimum manusia Naledi tersebut diperkirakan berumur 3 juta tahun lalu. Dari kumpulan fosil tulang-belulang, tim ilmuwan yang dipimpin oleh Lee Bergeer, paleoantropolog dari university of Witwatersrand, menyimpulkan bahwa secara fisik manusia Naledi mirip dengan “Homo erectus” yang hidup sekitar 1,5 juta tahun lalu; berkepala kecil, berkaki panjang, kurus, bergigi sederhana, dan mirip kera di bagian dada dan tangannya.

Sebagai seorang yang awam di bidang kepurbakalaan, saya pun bertanya kepada kawan tersebut: mungkinkah penemuan baru ini mendukung teori Darwin tentang evolusi manusia? sang ahli biologi ini pun menjawab bahwa selama ini telah terjadi kekeliruan pandangan dalam memahami teori evolusi Darwin, dikiranya manusia merupakan salah satu fase dari evolusi kera, padahal Darwin tidak pernah menyebutkan hal itu dalam teorinya, Darwin hanya bertutur bahwa ada kemiripan gen antara manusia modern dengan kera. Nah lo!.

Penasaran dengan apa yang disampaikan, saya pun bertanya kembali: kalo umur manusia Naledi diperkirakan sekitar 2-3 juta tahun lalu, umur Homo sapiens sekitar 150 ribu tahun yang lalu, umur Nabi Nuh sekitar 3 ribuan tahun lalu (berdasarkan penanggalan endapan banjir era Nabi Nuh di daerah Mesopotamia), berapakah kira-kira umur Nabi Adam yang diperkirakan 10 generasi sebelum Nabi Nuh? “Itu masih menjadi misteri” jawabnya, “ada missing link (mata rantai yang terputus), seandainya kita bisa menemukan di mana kuburnya (Nabi Adam), mungkin teka-teki itu akan terjawab,” tambahnya.

Saya pun teringat dengan diskusi tempo hari bersama kawan-kawan di Farnham Institute, mengenai makna kata khalifah dalam QS. Al-Baqarah: 30. Salah seorang teman mempunyai keyakinan bahwa ada kehidupan “manusia” sebelum turunnya Nabi Adam ke bumi, oleh karena nya makna kata khalifah dalam ayat tersebut dapat diartikan sebagai “penerus” atau “pengganti”. Seorang teman lainnya mendukung pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa mahkluk yang disebut malaikat dalam QS. Al-Baqarah: 30 “suka berbuat kerusakan dan pertumpahan darah” itu adalah “manusia” sebelum Adam.

Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” QS Al-Baqarah: 30

Makna kata khalifah?

Khalifah menurut bahasa merupakan isim fa’il dari fi’il madhi khalafa, yang berarti: menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Sementara menurut Ibrahim Anis (1972) Khalifah adalah orang yang datang setelah orang lain, lalu menggantikan posisinya (Al-Mu‘jam al-Wasîth, I/251). Jadi, menurut bahasa, Khalifah adalah orang yang mengantikan orang sebelumnya.

Dalam Al-Qur’an, kata khalifah dalam bentuk tunggal terulang dua kali, yaitu dalam QS. Al-Baqarah: 30 dan QS. Shad: 26.

Dan ketika Tuhanmu telah berkata kepada para malaikat,”Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)


“Wahai Dawud ! Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu sebagai seorang khalifah di bumi. Maka hukumilah manusia dengan haq. Dan janganlah memperturutkan hawa nafsu sehingga ia menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Shaad: 26)

Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata khalafa’ yang berarti “di belakang”. Dari sini, kata khalifah seringkali diartikan sebagai “pengganti” (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya).

Pertanyaan selanjutnya adalah pengganti dari siapa?

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab tafsirnya al-Jalalain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan khalifah pada QS. Al-Baqarah: 30 adalah Nabi Adam AS, yang akan mewakili Allah dalam melaksanakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan-Nya di dunia. Sementara mahkluk yang disebut malaikat akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi adalah bangsa jin yang juga mendiami bumi, bukan bangsa manusia.

Sedangkan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengartikan kata khalifah pada QS. Al-Baqarah: 30 itu dengan “suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.” Sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Qurthubi yang menukil dari Zaid bin Ali bahwa kata khalifah disini bukan Nabi Adam saja, akan tetapi suatu kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain silih berganti, abad demi abad, dan generasi demi generasi.

“Dialah yang menjadikanmu sebagai khalifah-khalifah di muka bumi.” (QS. Faathir: 39). 
“Dan Dia lah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi” (QS. Al-An’am: 165)
“Dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi” (QS. An-Naml: 62)

Dari beberapa keterangan diatas, kita dapat simpulkan bahwa:
Pertama, khalifah berarti seorang pengganti Allah di muka bumi, dalam rangka menunaikan amanat-Nya dan menegakkan hukum-hukum-Nya di muka bumi. Ini tidak berarti bahwa manusia sama kedudukannya dengan Allah, melainkan hanya diangkat menjadi khalifah-Nya dengan perintah-perintah tertentu.

Kedua, khalifah berarti pengganti dari yang sebelumnya karena telah tiada, seperti pada kaum yang menggantikan kaum Nuh dan kaum ‘Aad setelah musnah dihancurkan oleh Allah. Demikian pula Bani Israil yang menggantikan kaum Fir’aun yang telah ditenggelamkan.

Sekarang mari kita cocokan keterangan di atas dengan hasil penyelidikan mutakhir atau temuan-temuan baru tentang asal-usul manusia. Mungkinkah Adam adalah mahkluk manusia pertama yang diturunkan oleh Allah ke bumi? Adakah yang dimaksud dengan Adam sebagai khalifah adalah khalifah dari Adam-adam sebelumnya? Ataukah Adam hanya merupakan wujud manusia sempurna, sementara mahkluk-mahkluk sebelumnya hanyalah mirip atau memiliki gen yang nyaris sama dengan manusia? Tentunya kembali kepada pemahaman kita masing-masing. Namun satu yang pasti, manusia adalah mahkluk yang mulia yang diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim), sehingga tidak patut menyia-nyiakan kepercayaan Allah dalam mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Masih banyak lagi rahasia alam baik di bumi maupun di langit yang belum terungkap dan diajarkan kepada manusia dan malaikat. 

 

Wallahu a’lam bi Shawab

 

Perth, 12 Desember 2015