Jangan Pernah Lelah Berdo'a Sahabat

Manusia wajib berdo’a dan berusaha saat memiliki tujuan atau rencana yang tengah ditargetkan dan kemudian berserah diri terhadap semua Qadha dan Qadhar dariNYA

Saya harus merenung sesaat akan menentukan apa yang ingin saya bagikan untuk para pembaca website MY CIMSA. Sebenarnya ingin menulis sesuatu yang bersifat kajian mendalam dari sisi Keislaman terhadap sesuatu fenomena seperti yang sering dilakukan oleh dua sahabat saya Kang Tubagus dan Daeng Akhdian namun saya menyadari bahwa keilmuan yang saya miliki belum mampu saya rangkai menjadi sebuah kajian yang menarik seperti yang dilakukan kedua sahabat saya tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan sebuah refleksi dari pengalaman hidup saya yang coba saya kaitkan dengan beberapa nukilan ayat suci Al-Qur’an.

Perjalanan menjadi seorang mahasiswa PhD secara official (resmi) dimulai saat saya datang ke student central melakukan registrasi dan kemudian mendapatkan ID selaku mahasiswa pada tanggal 3 September 2013. Kartu mahasiswa yang saya pegang membawa memori saya terbang ke tahun 2008 saat bertemu dengan beberapa mahasiswa PhD yang hebat, jenaka, ceria namun religius di Wageningen University. Beberapa antara mereka adalah Pak Hadi, Pak Jay, Mas Awang, dan Mas Firdaus, mereka telah memberikan saya sebuah persepsi bahwa studi PhD itu bisa kita lakukan tanpa perlu mengorbankan aktifitas-aktifitas sosial, olahraga, dan jalan-jalan tentunya. Keempat sahabat saya tersebut masih bisa ikutan latihan rutin sepak bola dan tenis dengan kami-kami yang mahasiswa Master selain meluangkan waktu juga untuk menjadi penyiar dadakan Swara Wageningen sebuah radio berbasis internet yang diinisiasi oleh PPI Wageningen. Selama kami beriteraksi saya tidak pernah mendengar sedikitpun keluhan akan studi yang mereka lakukan, semuanya terlihat fun. Ternyata setelah saya menjadi mahasiswa PhD saya baru sadar saya tertipu..ataukah sahabat-sahabat saya tersebut pandai menyimpan cerita dari kami para Master students..heheheh.


Tim Sepakbola PPI Wageningen (kostum Biru) kombinasi Mahasiswa S2 dan S3

 

 

Menjelajah Eropa

 

Kenapa saya bilang bahwa saya tertipu karena  mungkin saya mengalami masa-masa sulit pada satu tahun pertama masa studi PhD saya. Bayangkan impresi awal saat pertama kali saya menginjakkan kaki di research center adalah sesuatu yang sulit dilupakan seperti sebuah iklan di TV yang mengatakan ‘kesan pertama begitu menggoda’. Itu kali pertama saat saya berkenalan langsung dengan pembimbing saya dan saat dimana saya harus menerima sedikit ceramah serta disuguhi wajah yang kurang enak gara-gara sebuah jabat tangan. Sebagai orang timur kebiasaan saya saat berkenalan dengan orang adalah menjabat tangan dengan erat sebagai perlambang antusiasme. Namun ternyata hal ini menjadi sesuatu yang terbalik di mata pembimbing saya. Satu lagi pelajaran budaya yang saya dapatkan padahal selama kuliah Master di Belanda saya tidak pernah bermasalah dengan jabat tangan. Ah sudahlah mungkin setiap negara punya budaya dan kebiasaannya masing-masing. 

Cerita selanjutnya mungkin sudah bisa ditebak..selain rasa kaget yang menyelimuti terkait dengan beberapa aturan yang membuat saya mengernyitkan dahi karena belum ada rekan-rekan PhD Indonesia lainnya yang mendapatkan perlakuan ‘khusus’ dari pembimbingnya seperti yang saya dapatkan. Salah satu rekan satu research center yang saat tulisan ini saya tulis telah mengondol gelar PhD in Engineering mengatakan ‘she is special one’ seperti julukan salah satu pelatih bola terkenal deh. Dalam masa-masa sulit penuh tekanan tersebut saya menuliskan Surah Al-Baqarah ayat 286 di buku kecil saya.       

لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Surah al-Baqarah ; Ayat 286)

Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui kemampuan kita sebagai hamba-Nya oleh karena itu apa yang saja yang menimpa kita sebenarnya masih ujian ringan dan di bawah kemampuan dari diri kita untuk menghadapinya. Anggaplah sesuatu ujian itu dengan pikiran yang positif dan cobalah merenung bahwa masih ada orang lain yang lebih berat menghadapi ujian daripada kita dengan demikian beban yang ditanggung akan menjadi lebih ringan. Itulah yang selalu menyemangati saya dan rupanya Allah SWT memang secara langsung memberikan saya pelajaran dari kondisi beberapa teman yang saya lihat mempunyai beban lebih berat dari yang saya alami.

 

Segala kondisi dan tekanan tersebut membuat saya kembali menulis dua kalimat di buku kecil saya: ‘Man Jadda Wajada’ dan ‘I will prove that Indonesian can do better and make a break through’. Sekuat tenaga saya berusaha untuk bisa memenuhi segala permintaan dari pembimbing saya, melakukan literature review dan sampai tiga kali berganti topik yang berbeda sehingga kami menyepakati research project untuk PhD saya. Apakah saya hanya berusaha (iktiar)?...tidak sahabat…saya selalu menyelipkan do’a dalam setiap sholat yang saya lakukan…’Ya Allah lapangkanlah dadaku..Mudahkanlah urusanku..dan buatlah mereka mengerti apa yang aku ucapkan’. Sholat dan berdo’a adalah dua hal yang mejadi satu kesatuan utuh karena disetiap bacaan sholat kita juga terkandung do’a kita kepada Sang Khaliq Allah SWT. Hal ini membawa saya ke sebuah nukilan sebuah ayat di Surah Al-Baqarah:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ‌ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَ‌ةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; Dan sesungguhnya sholat itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (Surah al-Baqarah ; Ayat 45)

.

Dari kalimat Allah سبحانه وتعالى diatas kita bisa ambil sebuah hikmah bahwa sifat sabar dan sentiasa mengerjakan sholat wajib dan sholat sunat akan membantu orang mukmin ketika dia menghadapi ujian dan kesukaran dalam hidup. Hal tersebut Inshaa Allah akan melapangkan pikiran kita dan melepaskan dari segala kesusahan: istiqamah dengan bersabar dan selalu berdo’a serta bermunajat kepada Allah SWT.

 

Satu hal yang juga selalu saya lakukan adalah minta di doakan oleh ibu, saya punya jadwal rutin untuk menelpon beliau dan ngobrol dengan beliau. Saya selalu merindukan saat-saat ngobrol dengan beliau karena bisa berbagai macam topik bahkan topik situasi politik di daerah sering kami bahas maklum ‘darah atau trah politik’ begitu kental di dalam diri ibu saya. Namun satu hal yang pasti menjadi penutup percakapan kami adalah do’a yang dipanjatkan beliau untuk saya karena beliau pasti bertanya ‘bagaimana studimu? lancar?’ dan jawaban saya pastinya adalah ‘mohon do’a nya agar semua lancar’..lafalan-lafalan do’a beliau saya amini yang menjadi akhir percakapan kami. Mengapa kita harus berdo’a? – Allah SWT dalam sebuah ayat di QS. Al-Baqarah: 186 jelas-jelas meminta kepada kita untuk berdo’a dan Allah SWT berjanji untuk mengabulkan semua do’a (tentunya yang baik-baik) yang kita hambanya panjatkan.

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ”  (Surah al-Baqarah ; Ayat 186)

 

Kadang kala kita sebagai manusia merasa lelah dan bosan berdo’a karena merasa do’a yang kita panjatkan tidak ada tanda-tanda akan dikabulkkan. Jangan pernah lelah untuk berdo’a sahabat karena ada tiga hal yang akan terjadi terkait dengan do’a yang kita panjatkan:

      1.  Do’a seorang hamba akan langsung dikabulkan oleh Allah SWT;

  1. Do’a akan ditunda oleh Allah SWT yang kemudian akan Allah SWT kabulkan di lain waktu atau nanti di Akherat;
  2. Do’a akan diganti oleh Allah SWT dengan hal lain yang menurut Allah SWT lebih baik.

Jadi teringat satu do’a yang saya panjatkan saat kami diberikan kesempatan oleh Allah SWT menunaikan Ibadah Haji pada Tahun 2011, setelah dua tahun menunggu baru do’a tersebut dikabulkan dengan berangkatnya saya ke Australia Barat untuk memulai studi PhD dengan memperoleh beasiswa. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk selalu berdo’a memohon kepadanNYA karena tidak ada tempat lain untuk kita bergantung dan memohon pengharapan hanya kepada Allahسبحانه وتعالى yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. DIALAH yang mengkabulkan segala do’a dan permintaan.

 

حَسْبِيَ اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَ‌بُّ الْعَرْ‌شِ الْعَظِيمِ 

 “Cukuplah Allah bagiku (yang menolong dan memeliharaku), tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain daripada-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan DIALAH yang mempunyai Arasy yang besar.”  (Surah at-Taubah ; Ayat 129)

.

Manusia wajib berdo’a dan berusaha saat memiliki tujuan atau rencana yang tengah ditargetkan dan kemudian berserah diri terhadap semua Qadha dan Qadhar dari-NYA.  Dengan berdoa dan berusaha, setiap manusia akan melewati tantangan, rintangan yang pada akhirnya akan mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan Firman ALLAH SWT:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ‌ يُسْرً‌ا ﴿٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ‌ يُسْرً‌ا ﴿٦

“Maka (tetapkanlah kepercayaanmu) bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan, (Sekali lagi ditegaskan) bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disudahi dengan kemudahan.” (Surah al-Insyirah ; Ayat 5-6)

.

Rangkaian semua hal tersebut diatas telah memberikan saya sebuah pelajaran berharga bahwa Allah SWT sangat dekat dengan kita dan yang perlu kita lakukan untuk kesulitan yang kita hadapi adalah ikhtiar, berdo’a, dan bertawakkal. Saat tulisan pertama saya di publish di sebuah Journal International, salah satu teman dari Afrika yang sering berjumpa saya di Musholla Curtin dan tahu beberapa hal yang saya hadapi berkata ‘Alhamdulilah You make it’ saya hanya berujar ‘Alhamdulilah ada ‘tangan yang tak terlihat’ yang membantu saya yaitu Allah SWT’.

Jangan pernah lelah berdo’a sahabat…Allah SWT Maha Pengabul Do’a.

Perth, Jumat, 11 Dzulhijjah 1436 H

 

Kontributor: Joni S Adiansyah (Presiden CIMSA 2015-2016)