Memaknai Musibah

Apa manfaat utama membaca wirid (rutin berdzikir)? Apa sikap dan ikhtiar agar musibah dapat membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin yakin akan scenario terbaik dari Allah untuk kehidupan kita?

 

Apa manfaat utama membaca wirid (rutin berdzikir)? Apa sikap dan ikhtiar agar musibah dapat membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin yakin akan scenario terbaik dari Allah untuk kehidupan kita?

Diplomat itu bercerita kepada Ujang, “ Di mana orde baru, saya pernah berbisnis dengan anak seorang penguasa. Bisnis  hancur lebur, modal saya tidak kembali, dan siapa yang berani melawan keluarga penguasa saat tu? Maka, stress beratlah saya”

“Lalu, apa yang terjadi? Kenapa sekarang saya lihat karier Bapak bagus dan muka Bapak terus berseri?” Ujang penasaran.

Beliau menarik napas panjang sebelum menjawab “ saya menemui seorang kyai dan setelah saya menceritakan persoalan saya, sang Kyai memberi saya wirid yang harus say abaca selepas shalat wajib sekian ratus kali. Setelah satu bulan, saya datangi Pak Kyai dan saya laporkan bahwa modal saya tetep tidak kembali dan hidup saya masih hancur. Pak Kyai menyarankan saya untuk terus membaca wirid itu.”

Ujang menggeser posisi duduknya dan semakin tekun menyimak kisah ini. Beliau melanjukan ceritanya. “ Bulan kedua, saya datangi dan lapor kepada pak Kyai bahwa saya belum ada tanda tanda bahwa uang saya yang hilang itu akan kembali lagi. Pak Kyai dengan tersenyum tetap meminta saya untuk membaca wirid itu. Bulan Ketiga, saya datangi pak Kyai dan saya menyampaikan bahwa saya sudah ikhlas akan kehilangan modal saya dan saya sudah melupakan peristiwa itu. Sekarang perlahan saya sudah kembali menata ulang hidup saya.”

Kata diplomat itu,” pak Kyai memeluk saya seraya berbisik, “Nah, itu yang memang saya ingin sampaikan sejak dahulu, uang kamu itu tidak akan kembali, tetapi kalau saya langsung bilang begitu kamu pasti marah marah. Wirid yang saya berikan itu bukan agar uang kamu kembali, tetapi agar kamu ikhlas menerima musibah dan kemudian memulai rencana baru dalam hdiupmu”.

Diplomat itu mengakhiri ceritanya, “ sejak saya Ihlas menerima musibah itu, saya justru memiliki kekuatan dan keyakinan untuk terus melangkah menjalani hidup ini. Alhamdulillah hidup dan karier saya semakin baik, serta yang lebih penting lagi hubungan saya dengan Allah juga semakin dekat akibat peristiwa itu. Diam diam saya bersyukur pernah mengalami musibah itu”

Menyimak penuturan diplomat itu, Ujang jadi teringat ungkapan Ibn “Athaillah: Boleh jadi seseorang akan memperoleh pengalaman batin dalam penderitaan, apa yang tak bisa diperoleh dalam puasa dan shalat (rubbama Wajadta min al-mazidi fi al-faqat ma la tajiduhu fi al-shaum wa al shalah)

Semoga semua musibah dan ujian serta penderitaannya yang kita alami membuat kita semakin dekat kepada Allah, dan Semakin yakin akan scenario terbaik dari Allah untuk kehidupan kita. Shallu’alan-nabi!

 

Ditulis ulang dari Buku “ Dari Hukum makanan tanpa label halal hingga memilih mazab yang cocok “ Prof. H Nadirsyah Hosen. PhD,  halaman 114-116

Kontributor: Achmad Room Fitrianto