Banjir Besar Nabi Nuh Dalam Persfektif Ilmu Pengetahuan

Hasil penulusuran berdasarkan jejak rekam geologi dan antropologi, banjir besar pada zaman Nabi Nuh terjadi di suatu wilayah yang disebut “tanah genting Eufrat”, tempat mengalirnya dua sungai besar Eufrat dan Tigris di suatu wilayah Mesopotamia yang meliputi sebagian Irak, Suriah, dan Turki sekarang

 

Pagi itu, seperti biasa kami sarapan bareng dengan diselingi diskusi ringan ala Farnham Institute. Tidak terasa rupanya pembicaraan semakin hangat dengan beberapa tanya yang masih menyimpan jawab seperti dapatkah kata “khalifah” dalam Al-qur’an kita artikan sebagai “penerus”? bagaimanakah nasib manusia pra-sejarah yang tidak mengenal Tuhan di akherat kelak? apakah Nabi Adam sebagai manusia pertama yang diturunkan Allah ke bumi merupakan perwujudan “manusia sempurna”? mungkinkah ada kehidupan “manusia tidak sempurna” di bumi sebelum Nabi Adam turun? Ah, rasanya pertanyaan-pertanyaan itu tidak cocok dibahas saat sarapan pagi, walaupun kopi susu setia menemani.

Pembicaraan pun bergeser ke topik yang sedikit agak akrab di telinga, namun tetap terlalu berat untuk dibahas saat sarapan pagi, yakni bagaimana penjelasan banjir besar pada zaman Nabi Nuh dalam kacamata ilmu pengetahuan. Sambil terus nyeruput kopi susu, saya coba kumpulkan ingatan-bacaan yang tercecer dan hubungkan teori-fakta yang terputus, sampai pada akhirnya mbah “google” turun tangan memecah kebuntuan yang terjadi. Hahaha….

Baiklah kita mulai pembahasan mengenai tempat dan waktu banjir itu terjadi?

Hasil penulusuran berdasarkan jejak rekam geologi dan antropologi, banjir besar pada zaman Nabi Nuh terjadi di suatu wilayah yang disebut “tanah genting Eufrat”, tempat mengalirnya dua sungai besar Eufrat dan Tigris di suatu wilayah Mesopotamia yang meliputi sebagian Irak, Suriah, dan Turki sekarang (lihat gambar). Secara geografis, daerah tersebut memang memungkinkan terjadinya banjir besar akibat luapan air Sungai Eufrat dan Tigris, terlebih banyak rekam jejak alam yang menguatkan pernyataan tersebut. Sementara secara geologis, “tanah genting Eufrat” merupakan zona lemah atau daerah rentan bencana berdasarkan deskripsi peta tektonik lempeng  sebagai berikut (Skinner et al., 2004): sebelah barat dibatasi oleh sesar (patahan) mendatar sinistral (mengiri), sebelah utara dan timur dibatasi oleh sutur (tempat benturan dua lempeng) yang  mempertemukan Lempeng Arab dan Eurasia, dan retakan-retakan pinggir benua di bawah Eufrat dan Tigris yang potensial mengalami aktivasi kembali apabila terjadi goncangan (gempa).

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. 54: 11-12)

Peta wilayah Mesopotamia dan sekitarnya

 

(sumber: http://www.leftoverhistory.com/ancient-mesopotamian-beet-brooth/)

Sedangkan mengenai waktu, terdapat perbedaan pendapat terjadinya banjir besar tersebut, satu sumber menyebutkan terjadi pada 11–13 ribu tyl (tahun yang lalu) bersamaan dengan peristiwa meltwater pulse (MWP) atau mencairnya es secara tiba-tiba di daerah kutub yang mengakibatkan naiknya air laut secara signifikan, sementara banyak sumber menyebutkan terjadi pada sekitar 3 ribuan tyl. Berdasarkan rekam jejak antropologi dari hasil penggalian endapan banjir oleh R.H. Hall dari British Museum dan dilanjutkan oleh Leonard Wooley tahun 1922–1934 di kota-kota penting Mesopotamia seperti: Ur, Erech, Kish, dan Shuruppak, terungkap bahwa endapan banjir itu berumur sekitar 2900 – 3000 tyl menurut pentarikhan jejak unsur karbon pada tanah liat dan pasir. Sementara temuan terakhir oleh ekspedisi “Noah’s Ark Ministries International” NAMI dari Hongkong tahun 2010 menyebutkan bahwa susunan kayu purba yang digunakan Nabi Nuh membuat perahu diperkirakan berumur 4800 tyl. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa banjir besar tersebut terjadi pada sekitar 2900-3000 tyl.   

Dan difirmankan, “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah.” Dan airpun  disurutkan perintahpun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas Bukit Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.” (QS.11: 44)

Seberapa luas banjir besar Nabi Nuh tersebut?

Pada penjelasan secara geografis dan geologis di atas, dikaitkan dengan ayat-ayat suci Al-qur’an, saya percaya bahwa banjir besar tersebut hanya terjadi secara lokal di daerah aliran Sungai Eufrat dan Tigris, serta hanya menenggelamkan kaum Nabi Nuh yang ingkar terhadap Allah. Simak penuturan berikut:

Dalam beberapa studi literatur tentang muka air laut secara global (Peltier, 1999), disebutkan bahwa pada sekitar 3000 tyl, bersamaan dengan banjir besar Nabi Nuh, muka air laut di bumi sedang mengalami regresi (penurunan) 1 hingga 5 m, setelah sebelumnya mengalami transgresi (kenaikan) yang sangat tajam (125-130 m) dalam rentang waktu 19000 (akhir zaman es) hingga 6000 tyl, kemudian sejak 6000 tyl muka air laut berangsur-angsur turun hingga mencapai ketinggian sekarang. Jika dikaitkan dengan peristiwa banjir besar Nabi Nuh, nampaknya tidak mungkin banjir tersebut meliputi seluruh bumi, karena akan sangat sulit dicari pembenaran ilmiah untuk menjelaskan perbedaan muka air laut di salah satu bagian bumi naik, sementara di bagian bumi lainnya turun atau stabil. Al-qur’an juga jelas menunjukkan bahwa tidak seluruh umat melainkan hanya umat Nabi Nuh yang dihancurkan sebagaimana Nabi Hud diutus hanya untuk kaum ‘Ad (QS. 11: 50) dan Nabi Saleh diutus untuk kaum Tsamud (QS. 11: 61).

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada Nya)?” (QS. 23: 23)

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” (QS. 71: 1)

Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (QS. 7: 64)

Bencana sebagai peringatan

Terlepas dari kondisi geografis dan geologis “tanah genting Eufrat” yang memang rentan terhadap bencana alam, ada pesan atau lebih tepatnya peringatan dari peristiwa banjir besar Nabi Nuh tersebut, yaitu agar tidak sekali-kali ingkar terhadap ayat-ayat Allah dan tidak berbuat zalim terhadap sesama, karena peringatan Allah akan datang kepada manusia dalam bentuk cobaan dan azab.

Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera, agar kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperintahkan oleh telinga yang mau mendengar. (QS. 69: 11-12)

Wallahu a’lam bi shawab

 

 

Contributor: Tubagus Solihuddin