Setiap Kita Adalah Pemimpin

 

Alkisah di negeri yang konon gemah ripah loh jinawi, namun banyak penduduknya yang kesulitan cari pekerjaan, padahal yang lulus perguruan tinggi juga tidak sedikit, singkat kata singkat cerita banyak yang pinter dan lebih banyak yang “sok pinter”. Lagi-lagi masalah lain muncul meski negeri ini dengan keunggulan yang dimiliki, namun sayang negeri itu hanya jalan ditempat. Mengapa demikian? mungkin karena terlalu banyak yang jual abab (baca omongan). Jadi ibarat tukang jamu dipasar tradisional yang menawarkan obat kuat. Meskipun mayoritas yang datang kan ibu-ibu, dan yang punya “sarung” yang diasumsikan paling butuh obat kuat hanya tinggal dirumah, si tukang jamu tetap saja berkoar koar menawarkan dagangannya dengan membangun “logika” dan hayalan para ibu ibu.  Akhirnya omelan dan koaran si tukang jamu lebih cocok jadi tontonan dari pada produk yang dijualnya karena cenderung lucu, vulgar dan “menyegarkan” sebagai tontonan. Meski si tukang jamu mampu menarik orang untuk menonton, apakah jamu kuatnya laku? belum tentu! orang mengerubutinya hanya melihatnya sebagai hiburan!.

Gambaran diatas hanyalah perwakilan dari para individu yang ada didalam komponen masyarakat majemuk kita. Kita sebagai bangsa ibaratnya suatu kereta atau mobil atau tepatnya angkutan umum dimana posisi mobil ini dalam posisi kurang menguntungkan. Sering mogok, “batuk-batuk” dan cendrung “oleng”, tapi untung mobil ini beroperasi ketika mobil lain yang katanya lebih besar lebih mudah oleng dan sering macet. Sehingga mobil yang jadi angkutan umum yang oleng ini dipertahankan bagimana bisa tetap melaju dengan lancar meskipun muatannya banyak yang “nyanyi” tanpa bisa menunjukkan kita harus apa untuk memperbaiki keolengan ini.

Secara umum, sebelum kita mengendari mobil atau naik angkutan umum, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana penampakan fisik dari kendaraan, selanjutnya kita cek juga apakah bahan bakarnya cukup, olinya, rodanya, kelayakan mesinnya. jika sudah terasa cukup langkah awal adalah menghidupkan mesin dan dipanasi secukupnya baru gigi satu dipasang. Andai pada gigi satu saja banyak yang “berderit” yang mengakibatkan penumpangnya menjerit ketakutan, bagaimana akan ikut lomba “Reli Paris-Dakkar”?

Jika kita mengingat pepatah rohani “setiap individu adalah pemimpin”, maka interaksi antar individu ini akan mewarnai satu komunitas. Apabila dalam satu mobil ada goyangan, yang bertangung jawab bukan hanya segelintir orang saja apalagi pak supir, ya tidak bisa toh, masak yang salah sopir jika penumpangnya yang hendak menggembosi roda mobil, tidak kan!!!!

Marilah kita mengadakan perbaikan individu kita, setelah selesai kita baru membina rumah tangga, terus membina lingkungan, terus membina bangsa, sehingga kita akan menjadi patron antar bangsa, semoga!

Kontributor: Achmad Room Fitrianto

Dosen Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel, Alumni  Ekonomi Pembangunan FE Universitas Airlangga, Master of Arts in Public Policy Murdoch University, PhD (Can) Curtin University,  Wakil President CIMSA (Curtin Indonesian Muslim Students Association) 2013-20124, President CUPSA 2015 (Curtin University Postgraduate Students Association)