Buat Apa Aku Qiyamullail?

Semalam aku terbangun dini hari, maunya qiyamullail tapi ada pikiran "buat apa qiyamullail?" rasanya sia sia

 

Semalam aku terbangun dini hari, maunya qiyamullail tapi ada pikiran "buat apa qiyamullail?" rasanya sia sia. Apalagi kalau terngiang ngiang kalimat ibu " kamu ini siapa? Merasa dekat dengan Tuhan 3-4 bulan terus dapat gambaran, dan kamu tafsirkan, memangnya gambaranmu bener? Memangnya tafsiranmu bener?"

Sampai subuh, dialectika itu berkecamuk dalam pikiranku

Subuhpun aku ogah-ogahan, sampai akhirnya ya hanya gugur kewajiban

Setelah sholat subuh yang disiangkan itu, aku beranikan diri ngelanjutin baca Quran. Beberapa menit kemudian otakku terpatri pada ayat 137 QS Annisa,

Inna allatheena amanoo thummakafaroo thumma amanoo thumma kafaroo thumma izdadookufran lam yakuni Allahu liyaghfira lahum walaliyahdiyahum sabeela

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

Mbuarrrr terurai langsung air mata ini, suara tercekat badanku mengigil ( mungkin krn kedinginan) seolah olah Allah "menampar" saya dan berkata" emang kamu mau kembali ke kehidupanmu yang dulu? Bebas tanpa batas? Ya kalau mau begitu ya silahkan tapi ingat konsekwensinya ya!"

Dengan kondisi curhatan seorang sahabat diatas, sangatlah wajar dan manusiawi terlebih bila merujuk perkataan Rumi: "Cermatilah kehalusan ini: pahamilah dengan gamblang apa yang kau damba di dasar hatimu, itulah sebenarnya engkau."

Manusia dengan segala keterbatasannya, acapkali ingin kembali ke kehidupan lampau dan sangat mendambakan “status Quo”. Bila hal ini terjadi, jangan jangan itu adalah  cerminan apa yang ada di dasar hati, cerminan ego yang tidak terpuaskan, cerminan kondisi diri kita yang sebenar-benarnya. Cerminan diri yang masih terjajah ego.

Sidharta Gautama juga pernah berkata sumber kesengsaraan adalah kemelekatan/keterikatan. Ego selalu melekatkan diri kepada sesuatu, mengikatkan diri pada kepemilikan. Kesengsaraan selalu berbanding lurus dengan derajat kemelekatan/keterikatan yang dimiliki ego.

Dikesempatan lain seorang bijak juga pernah mengjarkan begini "Bertobatlah dengan melekatkan keterikatan hanya kepada Allah, Sang Khalik, Sang Pemilik Ruh, tidak yang lain, maka hatimu akan lapang. Engkau akan menjadi manusia merdeka yang sesungguhnya."

Mulailah dengan jiwamu, sebagaimana QS Ar Ra'd:11

“Inna Allaha la yughayyiru ma biqawmin hattayughayyiroo ma bi-anfusihim wa-itha aradaAllahu biqawmin soo-an fala maradda lahu wamalahum min doonihi min wal”

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri (jiwa) mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Dari ayat diatas terlihat bila Allah tidak akan mengubah apa2/keadaan yang ada pada suatu kaum, hingga mereka megubah apa apa/keadaan yang ada pada jiwa jiwa mereka. Dan Perubahan manusia itu intisarinya berasal dari kebersihan jiwa.

Sehingga keraguan apapun itu dalam jiwa bila yakin dengan jalan yang ditempuh maka "Never Change your Way if you do it well". Dan kita semua juga tahu bila  Ujian yang paling berat adalah mempertahankan ketebalan Iman kita. Bila kita sudah mencapai pada satu titik tertentu dan ada sesuatu keinginan yang belim tercapai ada kalanya keraguan muncul. Lha ketika keraguan itu muncul maka titik titik rawan penuruan derajat keimanan kita seperti ikut menurun.

Oleh karena itu kedekatan kepada  Sang Khalik bukan diukur berapa lama kita mendedikasikan kepadaNya, namun sejauh mana kita bisa memaknai pencapaian. Usaha untuk mencapai pemaknaan itu memang tidak mudah dan berat. Akan ada pergumulan dengan godaan tuk menghentikan kedekatan kita kepada Allah. Intinya jangan sampai kehilangan Arah dan pasrah dan berserah adalah sebaikbaiknNya doa tapi jagan pernah jauh dari Nya.

Dan Juga satu lagi, jangan pernah menanyakan “mengapa begini”, “kenapa begitu”, “kepada harus dia?” Hindari pertanyaan itu. Karena pertanyaan itu adalah representasi dari ego manusia yang penuh "curiosity" menjadikan dialog dibatin ini terus terjadi.  Ego itu muncul  seperti menagih "reward" dari Tuhan atas kedekatan yang selama ini dilakukan dan itu kurang elok karena terlihat ketidak ikhlasan dari mendekatkan diri ke Yang Serba Maha. Namun demikian sangatlah humanist melontarkan pertanyaan pertanyaan itu terlebih bila manusia dalam kondisi kebingungan. Padahal sebetulnya keinginan manusia itu sederhana ditengah kebingunan. Mereka hanya sekedar ingin melihat seberkas cahaya meskipun sangat kecil di jalan yang terjal dan gelapnya kehidupan.

Tapi kita sebagai manusia harus sadar bila fitroh kita adalah abdun,  “Iyyakanak buddu” yang kita ucapkan minal 17 kali setiap harinya adalah perlambang jelas dengan posisi kita. Karenanya mari kita dedikasikan semua usaha, kita kembalikan semua masalah kepada Allah, Kita ndak usa mikir, just do the best, Selebihnya biar Dia yang ngurus dan menskenario

Wallahua’lam Bishowab 

 

Kontributor: Achmad Room Fitrianto