Dialog Senja tentang Agama

Oleh Arif Budi Rahman 

Sore yang muram. Hujan menyergap semenjak pagi. Suhu dibawah sepuluh. Namun terasa lebih menusuk karena saya baru datang dari Jakarta yang selalu bersuhu di atas tiga puluh. Terlebih lagi, ini kali pertama saya merasai winter. Saat itu saya tengah di dapur memasak mie rebus. Sebuah kemewahan kecil di tengah keterasingan jenis makanan tanah air. Menunggu air matang, saya duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur, memandangi limpasan air hujan di kaca. Kolam renang di balik pagar agak jauh di sana, nampak bagai bejana tua, beku dan kaku. Begitu siap santap, sembari menikmati hangat uap sedap nan mantap, teringat betapa jarang saya bisa mensyukuri se-porsi mie instan di tanah air sendiri. Karena semua telah membiasa. Ini sungguh sebuah senja yang kaya.

Belum dua suap, house mate saya turun dari kamarnya di lantai dua. Seorang bule tulen, kelahiran Australia bernama Adrian. Ternyata dia merasakan lapar yang sama. Sejurus dia sudah mendedahkan isi kulkas dan mulai memilih koleksi makanan yang akan disantapnya. Saya lupa apa yang dimasaknya, namun yang jelas, ada daging dalam racikannya.  Ia menawari saya tuk mencicipi makanan olahannya tersebut. Karena ada potongan daging, saya sontak bertanya daging apa gerangan.

Dia mengatakan bahwa itu adalah pork. Daging yang dalam keyakinan saya tidaklah halal dikonsumsi. Saya menolak sembari menjelaskan bahwa dalam agama yang saya anut, daging tersebut dilarang dimakan. Dia sedikit terperanjat. Namun sejurus kemudian saya lebih kaget dengan jawabannya, “ini daging terenak di dunia, kamu rugi kalau tidak pernah menikmati”. Saya ngiyem sambil menyerutup kuah di mangkuk. Yang lebih membikin deg, dia melanjutkan, “kamu pindah agama saja” katanya ringan.

Saya tersenyum kecut. Hanya untuk menikmati sekerat daging yang katanya ter-enak di dunia, saya harus berpindah agama! Bertahun-tahun setelah penggalan dialog senja itu, saya masih terngiang. Tanda tanya dan ironi bertumpukan: kenapa agama dianggap sepele. Ranah yang remeh temeh. Tak perlu menjadi perhatian. Seperti daleman, tabu diperlihatkan. 

Seiring waktu saya mulai meraba dan memahami logika dibaliknya. Saban berjalan-jalan dan melihat gereja, betapa sepinya. Bahkan di hari-hari menjelang hari raya mereka. Padahal di pusat perbelanjaan gairah perayaan begitu terasa. Pernah saya bertanya pada wanita setengah baya teman kerja saya yang asli Australia. Dia menuturkan bahwa dia dan keluarganya bukan penganut agama yang taat walau tetap mengaku beragama. Oh, mungkin ini sebabnya bagi mereka agama bukan “sesuatu banget”.  

Asumsi saya ini kembali menyeruak begitu melihat angka statistik. Hasil sensus 2011 mengambarkan fenomena tersebut tepat sekali. Dalam beberapa abad terakhir mereka yang memproklamirkan diri sebagai “no religion” semakin meningkat secara eksponensial. Dari satu per 250 (1911) menjadi satu setiap lima orang (2011) atau dari 0,04 persen menjadi 22 Persen. 

Tentu banyak alasan kenapa praktik beragama semakin terpinggirkan. Saya menduga alasan kemakmuran material cum performa ekonomi dan stabilitas politik ikut berperan.  Seperti diungkapkan oleh Quentin Atkinson, seorang psikolog dari University of Auckland, New Zealand seperti dikutip BBC. “Beberapa negara yang mengalami korosi religiusitas memiliki kesamaan indikator: sistem pendidikan dan jaminan sosial yang memadai, dan tingkat kesenjangan ekonomi rendah. Mereka tidak perlu merasa sangsi terhadap apa yang bakalan terjadi”.

Mereka, warga Australia, rata-rata tidak pernah merasakan kesusahan hidup alias kemiskinan riil. Dengan GDP perkapita sebesar lebih dari 56 ribu dollar (bandingkan dengan Indonesia yang $ 3,346). Hidup di negeri Kanguru ini serba mudah. Termasuk untuk urusan pekerjaan dan mendapatkan penghasilan. Sebuah topik maha berat bagi negara berkembang. Bahkan ada teman berseloroh, kalau di tanah air orang mencari pekerjaan, di sini pekerjaan mencari orang. Asal mau sedikit berkeringat, kemakmuran bakalan didapat.

Saya setuju belaka, kemajuan ilmu pengetahuan juga menyumbang kenapa atensi terhadap agama tumbang. Sudah berabad para filosof menguar, agama bertentangan dengan hukum mekanis dalam fisika dan alam semesta. “Dengan semakin tinggi tingkat edukasi, mereka telah membangun pola pikir kritis (critical thinking) yang berakibat pada semakin menipisnya rasa percaya pada instuisi” dan tentunya: agama.

Memang benar, peran agama semakin menipis di banyak belahan dunia. Yang saya catat, menipis tidak berarti hilang. Paling tidak, manakala saya berjalan ke pusat perbelanjaan masih sering melihat beberapa ornamen yang menandakan perayaan hari keagamaaan itu masih ada. Entah sampai kapan.