Adab – Beradab – Peradaban Islam

Oleh: Neni Mariana

 

“Ummi….huaaa”, terdengar suara tangisan Hafshah dari ruang tidurnya. Rupanya dia sudah bangun. “Ummi…adek sudah bangun”, kata Sarah sambil menggeliat dari balik selimutnya. “Okay, I’m coming”, aku segera menghentikan aktivitas potong memotong sayuran di dapur untuk persiapan memasak pagi ini.

 Segera kuhampiri dua kakak beradik itu. Kupeluk satu per satu dan kuberi ciuman selamat pagi. Bau original anak-anak balita sangat khas menyeruak masuk ke hidungku. Tak sadar aku nyengir menikmatinya. “Ouw…anak-anak Ummi sudah pada bangun. Sudah baca doa bangun tidur?”. Sarah langsung menyahut nyaring, “Alhamdulillahi ladzii ahyaanaa ba’da maa ama tanaa wailaihinnusyuur”.

 [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari no. 6325)

 Hafshah hanya membelalakkan matanya sambil mengamati mulut mbaknya yang lagi komat kamit. “Ayo adek juga baca bareng Ummi”, kuulang doa tersebut kata per kata dan mulut mungil itu mengikutinya. “Yuuk sekarang kita mandi”. “Asiiiik”, Sarah menyahut riang, Hafshah mengikuti dengan langkah pelan di belakang kakaknya yang berlari menuju kamar mandi.

 “Jangan lupa pipis dulu ke toilet sebelum nyemplung ke bathtub yaaa”, aku menyusul setelah mengambil pakaian ganti mereka. Sebelum masuk ke toilet, pagi ini aku ingatkan mereka tentang adab masuk toilet dan kamar mandi. Tidak setiap pagi aku sempat mengingatkan mereka. Nah, ini mumpung ingat, batinku. “Eits…masuk toilet pakai kaki kiri dulu hayoo. Sini kaki kirinya diletakkan di depan dulu sebelum masuk,” Aku ikut mempraktekkannya terlebih dahulu. Kulirik Hafshah masih salah menempatkan kaki kanannya yang di depan. “Adek, ditukar kaki yang di depan, yang kiri sayang”. Sambil lirak lirik ke kaki mbaknya dan kakiku, dia mengubah posisi kakinya. “Sekarang baca doa”. Sarah mendongak ke arahku. Rupanya dia lupa, karena memang sudah lama tidak kupraktekkan lagi di depan mereka, hufhh… .

 Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaaits”

 [artinya: Yaa Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari setan laki-laki dan setan perempuan]

 Setelah selesai menunaikan hajatnya, aku ingatkan kembali. “Kalau keluar pakai kaki kanan dulu yaaa”. Sarah menjalankannya dengan baik. Adeknya? Hehehe….musti perlu terus diingatkan mana kanan dan kiri. “Baca apa keluarnya?”, aku bertanya pada Sarah. “Hmmm ga tahu lupa”, Sarah nyengir. Hafshah ikut menirukan kata-kata kakaknya. “Ga tahu lupa”. Ini nih akibat udah lama ga ngajakin anak-anak ke TPA jadi pada lupa semua doa-doa sehari-hari. Paling yang masih sangat melekat doa sebelum dan sesudah makan, dan doa sebelum dan bangun tidur.

 Ghufraanaka”, aku mencontohkan. “Ghufraanaka”, mereka menirukan. “Masuk kamar mandinya sama seperti masuk toilet ya. Kaki kiri dulu lalu baca doa yang tadi Ummi ajarkan”. Aku kembali memandu mereka.

 Usai mandi aku siapkan sarapan buat mereka, “Nanti kita makan siang di luar”, ujarku. “Makan di shopping Ummi?”, istilah Sarah untuk andhok. “Enggak, kita ada undangan di rumah teman Ummi. Ayo sarapan dulu. Baca doa dulu yuk.” Dengan lancar mereka membaca doa makan. Tidak usah saya tulis di sini pasti pembaca sudah pada tahu kan? Hehe…

 Kusuapkan sesendok nasi dengan brokoli dan telur dadar ke Sarah. Hafshah memilih untuk langsung mencomot nasi dengan tangannya. Si kecil ini memang istimewa untuk urusan sehari-sehari selalu ingin dilakukan sendiri. “Ech, adek…masukkan makanan ke mulut pakai tangan kanan”. Melihatnya mengambil telur dengan tangan kiri, aku mengingatkan salah satu adab makan ini. “Oya”, sambil nyengir dia memindahkan cuilan telur di tangan kirinya ke tangan kanannya kemudian memakannya. Sarah mengunyah makanannya sambil menjahili adeknya. Hafshah yang merasa terganggu jadi ingin memukul kakaknya. Jadilah mereka berkejar-kejaran dengan mulut penuh makanan. “Sudah-sudah ayo duduk sini. Kalau makan atau minum itu harus sambil duduk. Nih, sambil main lego aja”, aku mengingatkan adab makan dan minum yang berikutnya ke mereka berdua.

 Sebenarnya Sarah sudah tahu semmua adab ini, kalau makan atau minum harus sambil duduk. Dia biasanya selalu ingat hal ini. Tapi demikian, jangankan Sarah yang masih anak-anak, aku aja yang sudah dewasa sering lupa. Apalagi kalau diundang jamuan oleh teman-teman di sini yang seringkali mereka makan dan minum sambil berdiri. Siang itu kami sekeluarga diundang makan siang oleh teman kami orang Australia, beserta kami diundang juga beberapa teman lain dari berbagai negara yang berbeda.

Saat tuan rumah menyuguhkan makanan pembuka sebelum menu utama, semua orang makan sambil berdiri. Aku berada dalam antrian panjang mengambil menu pembuka ini. Setelah mengambil beberapa crackers dan buah, aku mencari tempat di mana suami dan anak-anak duduk. Kutinggalkan kerumunan orang-orang yang makan sambil berbincang dan berdiri untuk duduk bersama anak-anakku. “Sarah tadi tanya, Ummi mana Bi”, kata suamiku. “Ummi antri ambil makanan, lama juga antriannya. Mereka sambil ngobrol sih”, aku menjelaskan ke Sarah. “Dikira tadi Ummi makan sambil berdiri menemani teman-teman di situ,” suamiku menunjuk kerumunan bule dan orang-orang Asia dari negara lain yang asik bercengkerama dan menikmati menu pembuka.

“Ummi, itu kok orang-orangnya makan sambil berdiri?”, tiba-tiba Sarah bertanya secara langsung kepadaku. Kuselesaikan kunyahan makanan di mulutku sambil berpikir, enaknya dijawab gimana ya. “Hmmm…iya karena mereka tidak kenal Allah, Sarah. Kita yang kenal Allah tahu bagaimana adab makan dan minum. Kan sudah dicontohkan sama Rasul”. Akhirnya alasan ‘kenal Allah’ yang biasa kupakai atas pertanyaan dia soal jilbab kukeluarkan. Dia mengangguk-anggukkan kepala mungilnya sambil sibuk mengunyah semangka, buah kegemarannya.

Setelah kejadian itu, setiap kali aku menghadiri jamuan makan di tempat-tempat seminar atau workshop yang seringkali minim tempat duduk, aku selalu teringat akan pertanyaan Sarah. Memori itu membuatku selalu menghindari kerumunan untuk mencari kursi yang biasanya cuma satu atau dua biji dan sepi peminat.

Seringkali kita dengar mengenai adab-adab melakukan hal-hal yang nampak sepele dalam keseharian ini, dan juga doa-doa yang menyertainya, diajarkan pada anak-anak TPA. Seolah doa-doa itu hanya cocok untuk anak-anak yang belum baligh saja. Sampai kadang kita yang sudah dewasa ini lupa untuk melestarikan adab dan doa yang telah diajarkan Rasulullah saw dan diamalkan secara konsisten oleh para sahabat Beliau.

Biasanya jika kita dihadapkan pada pembahasan mengenai apa itu tidak beradab, kita langsung teringat orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan biadab dan tidak ber peri-kemanusiaan, tidak senonoh, cabul, mesum, dsb. Sebagaimana ketika kita membahas soal peradaban yang unggul, angan-angan kita langsung melayang pada hal-hal besar seperti pembangunan, bayangan kita langsung terpaku pada pada negara-negara maju yang memiliki sistem transportasi, komunikasi, teknologi, dll. Kita selalu berpikir besar dan melupakan yang remeh namun esensial.

Padahal soal adab-adab yang kecil dan terlihat remeh inilah yang merupakan awal terbentuknya seorang muslim menjadi seorang manusia yang beradab dan bisa membangun sebuah peradaban mulia di bawah naungan Islam dan Sunnah. Yah, peradaban gemilang Islam dimulai dari orang-orang yang menjaga adab-adab keseharian dan tidak melupakan doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw untuk menjaga seluruh aktivitasnya.

Kegemilangan peradaban Islam dibangun tidak atas dasar keunggulan materi semata, tapi lebih dari itu ada kesadaran spiritual yang luar biasa di setiap individu muslim untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap aktivitasnya dan mengikuti panduan dari Rasul-Nya. Keistiqomahan dalam melakukannya akan membentuk keimanan yang kuat. Peradaban Islam dibangun atas dasar beradabnya seorang Muslim menjaga adab keseharian dan inilah yang menjadi dasar kesuksesan peradaban Islam, yang membangun tidak hanya keunggulan ilmu pengetahuan tapi juga ditegakkan di atas nilai-nilai kejujuran dan keadilan yang berorientasi akhirat.

Seringkali kita dengan bangga mengungkapkan betapa komprehensifnya aturan dalam Islam. Semua diberi adab, mulai dari toilet sampai aturan ekonomi dan bernegara. Sampai berbusa kita membahas adab bernegara, tapi lalai memperbaiki adab keseharian kita. Bukankah hal yang besar selalu dimulai dari hal yang kecil?

Yah, menjadi Muslim yang beradab yang bisa membentuk peradaban gemilang dimulai dari menjaga adab; adab tidur, adab makan dan minum, adab keluar dan masuk toilet, dan adab-adab lain yang diajarkan Rasulullah saw.

Sudahkah kita menjadi seorang Muslim yang beradab hari ini?