NIck, Fiona & Dialog Antar Iman

Oleh: Agung W. Subiantoro

 

So, how many times you have to do it in a day?”, tanya lelaki itu tiba-tiba setelah aku keluar kompleks Lab Sains & mendekatinya.

Namanya Nick, - Nick Srbinovski - lengkapnya. Lelaki berusia 64 tahun itu adalah salah satu rekan kerjaku (saat masih) jadi staf di Dept of Education di Rossmoyne Senior High School. Sebab penasaran dengan nama belakangnya, di satu kesempatan ngobrol pernah kutanya asalnya. Dia mengaku kalau dirinya asli dari tanah bekas Federasi Yugoslavia. Seperti halnya sebagian besar imigran dari India, Afrika, Mauritius, atau lainnya, dia mengungsi ke Western Australia ini jelas untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Tapi latar belakang pengungsiannya tidak sesederhana alasan kesejahteraan (baca: kemiskinan) selaiknya komunitas lain yang kusebut tadi. Ini jauh lebih signifikan: perang! Ya, dia adalah satu di antara banyak manusia di semenanjung Balkan yang harus jadi korban perang yang berkecamuk di periode 90-an.

“Oh, lima kali!”, jawabku lekas menyadari maksud pertanyaannya. Aku memang baru saja selesai menunaikan sholat subuh dengan memanfaatkan waktu jeda shift pagi “holiday cleaning” tugas kami di masa libur term ke-3, di tahun 2014 silam. Nick tahu kalau aku sholat sebab aku memang ‘pamit’ untuk minta waktu sesaat sebelum gabung dengannya rehat.

Di luar hari masih gelap, tanpa tanda-tanda matahari akan menyemburat meski waktu telah menunjuk jam enam lewat. Sebaliknya, gerimis justru makin rapi berbaris memupuk dingin yang memang belum habis dan serasa mengiris. Ah, musim memang telah berganti ke semi, tapi begitulah kuasa Allah yang menempatkan benua ‘tanah hitam’ ini ada di bawah lintang 23-setengah derajat sebelah selatan, sehingga penghuninya mau tidak mau memang harus siap menghadapi segala kemungkinan anomali cuaca di antara musim-musimnya.

“Lima kali itu, kapan saja?”, lanjutnya mencari tahu.

“Pagi sebelum matahari terbit - seperti yang baru saja kulakukan -, sekitar tengah hari, sore, lalu kurang lebih saat matahari terbenam, dan sebelum tengah malam”, dengan menata kata, aku berusaha memberi jawaban kepadanya agar mudah diterima.

“Bagaimana kau melakukannya?”

“Well, mungkin akan lebih jelas jika aku menunjukkan beberapa gerakan yang harus kulakukan”, sepontan aku menanggapinya sebab bingung bagaimana menjelaskannya, hehehe…! Maka, meski tak bisa semuanya, satu per satu aku menunjukkan gerakan-gerakan dasar sholat kepadanya, dengan penjelasan singkat supaya maksudnya tetap tertangkap. Dia mengangguk-angguk memperhatikan.

“Then, untuk apa kau melakukan itu semua?”, tanyanya lagi.

Kali ini, dengan dorongan keyakinan dalam hati, aku menjawab: “Yang utama, itu semua kulakukan sebagai caraku berterima kasih kepada Tuhan atas apa yang telah aku dapati dalam hidup ini. Selain itu, tentu untuk berdoa, berharap!”

Lagi, dia mengangguk pelan dengan mata menerawang.

“Aku tak bisa membayangkan apa yang kau rasakan saat atau setelah melakukan ritual (sholat)-mu itu. Sebab, aku sendiri gak punya pengalaman serupa untuk membandingkannya”, ujarnya. Aku diam, menunggu kata-kata susulan.

“Aku atheis, Gung. Aku gak mengenal Tuhan!”

Sesaat aku tertegun mendengar pengakuan Nick, di tengah hujan yang masih berisik.

Jauh hari sebelum mendarat di Perth awal 2013 lalu, aku memang paham kalau negara persemakmuarn ini sekuler. Tapi, mendapati seseorang yang mau mengaku kalau dirinya atheis, secara langsung, jadi pengalaman menarik. Boleh jadi, pandanganku ini dipengaruhi oleh sempitnya ‘tempurung’ kepalaku sebagai orang Indonesia yang terlalu biasa menemukan ekspresi identitas agama yang terpampang ke khalayak.

Tak terbayangkan apa yang akan dialami Nick andai saja ia tinggal di Indonesia. Jangankan jadi atheis, lha wong yang sudah menganut agama atau punya kepercayaan saja, tapi dipandang tak umum oleh khalayak umum, tak jarang akan menghadapi masalah besar. Diintimadasi, atau diperkarakan ke polisi. Ya, kan?

“Selama ini aku gak pernah berdoa, karena memang gak tahu untuk apa, bagaimana melakukannya dan kepada siapa itu kutujukan. Hidupku mengalir begitu saja”, lanjutnya datar. Sedang dingin hujan menampar-nampar.

Terkesan sentimental mungkin. Tapi jujur, ini jadi pengalaman cukup berharga bagiku untuk melakukan dialog macam begini.

Coba ingat, dalam hal interaksi dengan orang lain, teman, minimal, seberapa sering atau jauh kita pernah bertukar pendapat ikhwal hal-hal yang substil dalam konteks keimanan atau spiritualitas? Kalaupun pernah, mestilah, atau umumnya, ini terjadi dalam forum-kelompok pengajian yang tentu saja khalayaknya seagama. Ya, kan?

Nah, bagaimana dengan interaksi dengan ‘yang lain’, yang berbeda? Boleh jadi, yang banyak terjadi adalah obrolan enteng-entengan saja. Kalaupun agak berat, biasanya tetap untuk hal-hal yang profan saja. Ya, kan?

Maka, pertanyaan dan pengakuan itu telah memantik ion-ion di selubung myelin otakku bergerak makin gesit untuk menanggapi Nick.

Well, tentang apa yang kurasakan dari ritualku itu, kuakui, itu sifatnya personal. Karena (ritual) itu, juga bersama beberapa yang lain, adalah kewajiban, maka seperti ada kepuasan tersendiri dalam batinku jika aku telah melakukannya. Kepuasan, juga ketenangan”.

“Kau tadi bilang kalau itu adalah caramu berterima kasih, itu maksudnya apa?”

“Mhh, bagi kami, segala hal yang ada dalam kehidupan ini sudah diatur oleh Tuhan. Dia memberikan banyak hal yang kami butuhkan dalam hidup, seperti nafas, kondisi fisik, kecerdasan, atau waktu untuk melakukan apa saja. Bagi kami, kekuatan-Nya telah mengatur & memungkinkan bagi kami untuk hidup. Dan dalam ajaran kami, kami perlu, harus berterima kasih untuk itu semua!”

Mata lelaki itu melekat ke wajahku, seperti hendak menangkap tiap kata yang meloncat-loncat dari mulutku. Tapi langit seolah tak peduli dengan tetap menuangkan airnya bertubi-tubi.

"Lantas, bagaimana dengan berdoa, atau berharap, yang juga kau sebut tadi? Apa yang kau harapkan?”

“Dalam Islam, kami memang percaya bahwa Tuhan telah mengatur segalanya bagi kami. Tapi, meski begitu, kami juga diminta untuk ‘meminta’, berharap, atas sesuatu yang mungkin saja kami inginkan.”

“Seperti apa, misalnya?”

“Mhh, kecukupan harta (baca: rejeki), kebahagiaan, atau kebaikan”.

Dia mengangguk. Tapi gerak kepalanya itu justru membuatku tercekat sesaat di dingin yang masih melekat. Aku tersadar, bahwa jawabanku ikhwal contoh pengaharapan itu terdengar hambar sebab sekadar menyangkut hal-hal yang biasa, umum saja.

“Aku pikir semua agama memang mengajarkan kebaikan dan bisa membantu manusia jadi bahagia. Tapi, menurutku itu juga tergantung sikap masing-masing individu!”

Kalimat itu tetiba muncul menerobos baris-baris air yang masih tumpah dan mampir di telinga kami. Kalimat yang meluncur dari mulur seorang wanita yang duduk tak jauh dari kami berdua. Wanita itu namanya Fiona. Bule Australia berusia sedikit lewat paruh baya, rekan kerja kami juga.

“Aku seorang Kristian (Nasrani-red), tapi jujur, aku jarang sekali ke gereja. Malah boleh dibilang tak pernah. Tapi aku merasa tak ada beban karena tak melakukan (peribadatan di gereja) itu!”

Fiona melanjutkan kata-katanya, tanpa diminta. (Ah, dia memang selama ini dikenal suka berbicara. Dan ternyata dia mencuri dengar apa yang aku dan Nick perbincangkan).

“Bagiku, apa yang Kristus sampaikan, atau (Nabi) Muhammad ajarkan, atau juga Budha lakukan, semuanya bernilai sama: kebaikan! Meski kita tak pernah tahu apa yang terjadi dan dialami oleh Yesus, Muhammad, atau Budha di masing-masing masa hidup mereka, tapi itu tadi, untuk kebaikan. Inilah yang seharusnya kita lakukan dalam hidup, melakukan kebaikan. Dan di Australia, semua orang berhak bahagia dengan melakukan apa saja yang mereka mau, asal tidak mengganggu kenyamakan orang lain, ini kuncinya. Dan aku pikir, itu bisa jadi prinsip hidup bersama bagi semua orang, apapun agamanya!”

Kata-kata wanita itu kembali mendera. Dan hujan seolah ingin ikut menyimak dengan tetiba mereda. Aku dan Nick sejenak menjeda, berusaha mencerna pesannya dengan seksama.

“Perihal kebaikan dan tidak mengganggu orang lain, aku paham dan setuju denganmu. Tapi, agama tetaplah agama, dengan segala aturan dan kebijakannya. Bagiku, bagi kami, dalam Islam, melakukan ritual agama seperti yang kulakukan tadi tetap perlu dilakukan, sebagai pengingat dan cara kami berkomunikasi dengan Tuhan!”, tuturku merespon Fiona.

“Ya, aku pun bisa mengerti tentang itu”, Fiona balik meresponku. “Intinya begini, agama memang punya aturan, memberi rambu-rambu, yang, menurutku, lebih fokus mengatur tiap-tiap individu menjalani hidupnya. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari, nilai itu semua akan kelihatan dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, lingkungan kita. Selama kita tetap berlaku baik, maka kehidupan ini akan baik pula”, sambungnya.

Kulihat Nick mengangguk, lalu melemparkan tatapannya pada kami berdua, bergantian. Lalu dia berujar kemudian, “Well, meski ada hal-hal yang tampak berbeda, aku sedikit banyak bisa memahami yang kamu berdua katakan. Setidaknya, bagi seorang ateis sepertiku, I’ve got the point! Thanks anyway, sudah mau berbagi. I really appreciate those!

Hujan telah berselang lewat, berganti dengan cahaya yang makin menghangat. Tak terasa, ternyata waktu rehat kami pun melompat.

“Sepertinya kita sudah harus melanjutkan kerja kita!”, Fiona mengingatkan, sambil ngeloyor duluan. Aku dan Nick mengikutinya di belakang.

Thanks a lot, Agung! Aku masih tertarik dan penasaran dengan ritual dan ajaranmu!”, bisik Nick di sela langkah kaki kami, mengiring matahari yang makin meninggi.