Ilmu Agama dan Ilmu Dunia: Two Sides of the Same Coin

Oleh: Muhlisin Rasuki

 

Seperti biasa, pagi itu cerah. Aku mengendarai sepeda motor ku menuju kampus tempat dimana aku bekerja. Dan seperti biasa pula, sesampainya di kampus aku menuju ruang dosen untuk bertemu dan mengobrol dengan teman-teman ku disana. Namun tak seperti biasanya, kami saat itu mengobrol tentang salah suatu hal yang cukup pelik, yakni tentang ‘hubungan antara otak dan pikiran manusia dengan fungsi refleks organ tubuh yang meliputi receptive dan productive functions’. SubhanAlloh, hal-hal yang nampak sederhana seperti auditory perception, vision, dan first language production, etc. merupakan serangkaian proses yang sangat kompleks, dan meskipun telah dikaji dan diteliti selama berabad-abad lamanya belum ada satu kesimpulan definitif yang mampu menjelaskan secara pasti bagaimana dan apa yang mendasari terjadinya berbagai proses tsb.

“Wah”, salah satu teman ku berkata, “bukan saatnya lagi bagi ku untuk mempelajari hal-hal tersebut. Yang terpenting bagi ku saat ini adalah ilmu agama dan urusan ibadah”.

Menanggapi pernyataan tersebut, salah satu teman ku yang lain berkata dengan lembut, “Sebenarnya dalam Islam tidak ada dikhotomi antara ilmu/urusan agama dan ilmu/urusan dunia, kedua-duanya adalah kodrat (ketetapan) dari Alloh SWT. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi keduannya. Dan kalau kita merujuk pada sabda Rasululloh SAW, tidak ada batasan bagi kita dalam tholabul ‘ilmi. Selama hayat masih dikandung badan, disitulah kita wajib untuk terus menuntut ilmu”.

Pernyataan dari teman ku tersebut langsung disambung oleh yang lain, “Betul sekali”, ia berkata, “tidak ada dikhotomi keilmuan dalam Islam. Bahkan jika kita menoleh lagi kebelakang, zaman keemasan Islam ditandai utamanya oleh para ulama yang juga piawai dalam berbagai ilmu pengetahuan. Tidak hanya ilmu agama saja! Kita sebut saja misalnya: Al-Farghani, seorang yang ‘alim dalam ilmu agama yang juga ahli dalam bidang astronomi, Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika, Ibnu Sina, seorang yang sangat ahli dalam ilmu medis. Perlu dicatat bahwa banyak dari karya Ibnu Sina yang sampai sekarangpun masih tetap diabadikan dan dijadikan rujukan diberbagai universitas ternama di penjuru dunia, termasuk diantaranya adalah Universitas Oxford, Inggris. Hal ini terjadi karena para cendekiawan muslim di zaman keemasan Islam tidak memilah-milah antara bidang keilmuan. Mereka mempelajari semua yang dapat mereka pelajari.”

“Betul sekali,” kata teman ku yang lain menambahi. “Ada banyak permasalahan yang akan dihadapi oleh ummat Islam ketika mereka sudah mulai membeda-bedakan mana ilmu agama dan mana ilmu dunia”.

Mendengar pernyataan tersebut, kami semua diam sejenak. Kami semua meresapi jalannya obrolan kami yang sudah semakin serius. Selang beberapa waktu, teman ku kemudian melanjutkan pernyataannya. Ia berkata, “Saya sering mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya berdasarkan dalil. Bahkan, berdasarkan pengalaman saya, jawaban yang didasarkan pada fakta dapat lebih menyentuh dan meyakinkan beberapa kalangan penanya. Dari situ saya berkesimpulan bahwa agama amat sangat terkait dengan akal, dalam artian bahwa semua pertanyaan tentang keagaamaan, khususnya tentang Islam, dapat dijawab sepenuhnya dengan akal pikiran kita”.

“Bisa tolong kasih contoh” kata salah satu teman ku tadi yang nampak kurang sependapat.

“Baik.” Kata teman ku menanggapi. “Contoh mudah, misalnya, saya pernah mendapatkan sebuah pertanyaan begini: “Pak, dalam Al-Qur’an jelas disebutkan bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan bapak pastinya tahu kalau ada banyak sekali orang di luar sana yang meskipun sholat namun masih juga sering melakukan hal-hal yang tidak baik. Dan ketika si-penanya tsb. bertanya pada beberapa ustadz, jawaban yang sering diberikan adalah “orang yang sholat tapi tetap melakukan perbuatan keji berarti mereka tidak melalukan sholat dengan bersungguh-sungguh”. Namun, ketika ia bertanya bagaimana sesungguhnya sholat yang bersungguh-sungguh itu, jawaban yang diberikan oleh para ustadz tadi tak satupun yang membuat pikirannya puas, karena menurutnya jawaban yang diberikan padanya hanya mendasarkan pada dalil. Bagi-nya sulit untuk memahami dalil karena terkadang terkesan tidak/kurang kontekstual”.

Setelah menjelaskan dengan cukup rinci akar persoalaan, teman ku kemudian memberikan penjelasan sebagai berikut: “Setelah mendengar pertanyaan tersebut saya tahu bahwa yang ia (si-penanya) perlukan adalah jawaban yang bersifat kontekstual yang dapat dia pahami dengan mudah. Bukan lagi dalil, karena baginya sulit dipahami”.

“Terus bagaimana jawaban sameyan?”.

“Begini! Singkat cerita, saya tanya apakah dia pernah jatuh cinta. Dia menjawab iya. Namun, saya bilang, ‘bukan sekedar cinta, tapi cinta yang sebenar-benarnya cinta, cinta mati kalau orang bilang’ dan ia menjawab, ‘iya, pernah’. ‘Bagus’, kata saya, ‘seandainya wanita yang kamu cintai setengah mati itu menangis, bagaimana perasaan mu? . . . Pastinya kamu ingin tahu apa yang membuat ia menangis dan apa yang bisa kamu lakukan supaya ia bisa ceria kembali. Dan kamu akan bersungguh-sungguh untuk membuat wanita tersebut ceria kembali. Dengan kata lain, tindakan mu yang bersungguh-sungguh itu ada karena kecintaan mu pada dia—hal yang tak akan pernah kamu lakukan pada semua orang dan setiap wanita. Sebaliknya, saat kamu melihat seorang wanita menangis atau sedih sedangkan kamu sama sekali tak menaruh hati padanya maka bisa jadi kamu tak akan mau tau mengapa ia menangis. Jadi, kembali kepada pertanyaan tentang sholat yang dapat menghindarkan dari perbuatan keji dan mungkar, jawabannya adalah sholat yang didasari oleh rasa cinta yang mendalam. Karena untuk sebagian orang, sholat mereka tak lebih dari hanya sekedar simbol gerakan-gerakan ritual keagamaan. Namun untuk sebagian yang lain, sholat merupakan salah satu wujud kecintaan mereka kepada Alloh SWT. Golongan yang kedua ini akan selalu ingin membuat Alloh (terasa) dekat dengan mereka dan benar-benar takut jika Alloh akan jauh dari mereka. Dan seperti yang saya analogikan tadi, ketika kamu sudah cinta mati pada seseorang, kamu akan akan melakukan apapun agar selalu berada didekatnya dan menghindari hal-hal yang membuat mu jauh darinya.”

“Wah, menarik sekali Pak Ustadz. Luar biasa!” Sambut teman-teman ku saat itu.

“Saya bisa menyimpulkan disini bahwa ‘akal’ bisa memperkuat penjelasan tentang suatu dalil. Khususnya dikalangan “awam””. Kata salah satu teman dosen. “Hal tersebut membuat saya teringat akan salah satu dialog dengan salah satu kawan saya beberapa waktu yang lalu”. Katanya menambahi. “Teman saya ini adalah orang yang berpendidikan tinggi dan hanya mau menerima jawaban jika itu didasarkan pada fakta atau, paling tidak, suatu teori keilmuan. Ia mengajukan pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Untunglah saat itu saya bersama teman saya yang lain yang pada akhirnya membantu saya menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang disampaikan oleh teman saya adalah sebagai berikut: “Rasululloh SAW pernah bersabda bahwa kelak di akhir zaman semua orang yang ada dibumi ini akan kaya sehingga tak seorangpun yang membutuhkan sedekah dari yang lain”. Dia berkata bahwa hal tersebut nampak tidak mungkin dan sulit diterima. Menurutnya, secara umum (hukum alam) di dunia ini akan selalu ada yang lemah dan yang kuat, termasuk dalam aspek ekonomi.”

Setelah menghela nafas, teman ku melanjutkan, “Ketika saya tak bisa menjawab, teman saya akhirnya berkata, ‘Saat ini memang belum ada bukti empiris untuk mendukung sabda Rasululloh tersebut, namun ada teori dalam “medical engineering” yang sudah mengarah kesitu. Bahkan teori tersebut telah dikembangkan kedalam eksperimen oleh banyak ilmuan di barat. Ada juga teori lain yang mengarah kepada kebenaran sabda Rasululloh tersebut, yakni teori “konspirasi politik”. Namun saya hanya akan mencoba menjelaskan yang pertama saja.”

“Baiklah, kalau Anda pernah mendengarkan public lecture yang disampaikan oleh Prof. Michio Kaku tentang buku yang ia tulis, misalnya: The Future of the Mind, Physics of the Future, Physics of the Impossible, dll., Anda akan tercengang bahwa sudah ada banyak yang ia prediksikan terjadi saat ini dan beberapa masih menunggu waktu saja. Prof. Michio Kaku merupakan salah satu dari segelintir manusia di dunia ini yang dinobatkan sebagai orang terpandai yang masih hidup sampai sekarang. Dia adalah kolega Stephen Hawking, seorang kosmologis paling ternama di dunia.”

“Prof. Michio Kaku menjelaskan tentang apa yang akan terjadi di masa depan berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah dan perkembangan ilmu pengetahuan. Singkatnya, ia berkata bahwa mantan Presiden Amerika, Barrack Obama, telah menghabiskan dana yang luar biasa besar untuk mendanai berbagai proyek penelitian. Salah satunya adalah untuk membuat anti-aging paling canggih yang pernah ada. Anti-aging tersebut ditujukan untuk membuat manusia awet muda dan tidak akan pernah menua. Selain itu, anti-aging tersebut dapat membuat manusia tidak akan pernah mati karena kerusakan/penuaan sel-sel yang ada di tubuh manusia. Penelitian ini berusaha untuk menduplikat “cellular system” dari berbagai ekosistem yang ada di bumi, khususnya fauna, dengan memadukannya sel-sel mereka dengan sel-sel yang ada di tubuh manusia.”

“Kalau kita lihat, memang ada cukup banyak variasi fauna di bumi ini yang tidak pernah menua/mati karena penuaan sel-sel. Jenis fauna ini hanya bertambah besar seiring dengan berjalannya waktu, namun mereka sama sekali tak bertambah “tua”. Contoh, buaya, ular, dan ikan di laut lepas, misalnya, dimana semakin lama binatang-binatang tersebut akan bertambah semakin besar dan tak akan mati kalau tidak dikarenakan faktor dari luar seperti dimangsa/dibunuh. Penelitian untuk menduplikasi sistem kinerja sel-sel yang ada di binatang-binatang tersebut sudah berjalan selama beberapa tahun dan telah mencapai kemajuan yang cukup pesat. Dengan kata lain, kita hanya mengunggu waktu sampai hasil penelitian tersebut siap dipasarkan. Pertanyaannya sekarang adalah: jika penelitian itu berhasil, dan saya yakin akan berhasil, siapa yang mampu membeli produk anti-aging canggih tersebut? . . . Jawabannya adalah hanya mereka yang super kaya raya. Orang-orang yang tidak memiliki kekayaan yang cukup tidak akan pernah mampu membelinya, apalagi mereka yang masih dalam kategori kekurangan.”

“Singkatnya, hanya mereka orang-orang yang super kaya yang mampu bertahan hidup dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini. Saya yakin, lama kelamaan golongan manusia yang kurang mampu dari segi ekonomi akan “punah” karena mereka tak mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Ingat! Lapisan ozon kita juga semakin lama semakin terkikis. Dengan menipisnya lapisan ozon, pemanasan global sudah didepan mata. Dengan kondisi yang seperti ini, manusia yang tak mampu beradaptasi dengan perubahan iklim ini lama kelamaan akan mati. Dan tentunya, orang-orang yang super kaya akan melakukan berbagai cara untuk terus bisa survive (bertahan hidup). Dan pada saatnya nanti, hanya tinggal mereka-lah yang tinggal di bumi ini. Terlebih lagi, mereka mampu untuk hidup lebih lama dari pada kita karena produk anti-aging super canggih tersebut.”

“Kita, orang-orang biasa, kebanyakan tidak sadar tentang banyaknya ancaman yang menunggu di 100/200 tahun mendatang dan kita tidak akan pernah siap menghadapi ancaman tersebut saat ia datang. Dan saat kita “punah”, tinggal orang-orang yang super kayalah yang hidup di dunia ini. Hal tersebut amat sangat terkait dengan sabda Rasululloh seperti tersebut diatas.”

Kami semua terdiam setelah mendengarkan penjelasan tersebut. Kami mencoba menarik benang merah dari berbagai kejadian dan hal-hal yang mungkin akan segera terjadi. Ada banyak percakapan yang sebenarnya sangat menarik untuk dibahas. Namun karena saat itu masing-masing kami ada keperluan, kami terpaksa harus menghentikan obrolan kami.

Sembari berjalan pulang, saya berpikir bahwa ada banyak sekali orang muslim di luar sana yang karena kefanatikan mereka tentang ajaran (faham) yang mereka anut tak mau mempelajari dan mengenal lebih jauh tentang hal-hal di luar ajarannya. Padahal, sangat mungkin jika mereka mau memperdalam berbagai hal, era keemasan Islam kemungkinan dapat diulang kembali, dimana kaum muslimin dapat menjadi kaum yang terdepan karena kebijaksaan mereka dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.