Saya Seorang Fundamentalis

Oleh: Ilham Hadiana

Seperti biasa, pagi itu cuaca sangat cerah untuk sekedar dilihat dari bagian dalam jendela rumah. Namun untuk pergi keluar? No thanks… Saya lebih memilih membaca-baca jurnal dan menuangkan ide tulisan untuk thesis saya di rumah. Bukan melulu karena saya “anak rumahan” tapi karena cuaca di Birmingham UK, tempat saya mencari ilmu pada saat itu, cenderung menipu. Kalau kata teman tampilan cuaca itu “screensaver” doang, bahkan ada teman yang dikomentari sombong banget seakan-akan mau nunjukin “mentang-mentang lagi di Eropah” (eh tapi sekarang sudah bukan ya?) gara-gara memajang fotonya di facebook yang tengah berpakaian jaket tebal padahal background-nya cahaya matahari yang mengkilat. Ya, memang untuk urusan cuaca disana, apa yang tampak tidak menjelaskan secara benar keadaan yang sesungguhnya. Sepanjang tahun selama disana (kecuali 2 pekan saja saat summer) saya harus keluar rumah dengan atribut jaket tebal, kaos kaki, dan sepatu meskipun tampilan cuacanya seperti yang saya deskripsikan tadi.

Efisiensi juga jadi pertimbangan saya untuk tidak melangkahkan kaki ke kampus. Selain waktu tempuh untuk sekedar berjalan kaki ke kampus yang lumayan bikin badan langsing, kesempatan berhemat dengan tidak jajan untuk sekedar memenuhi aspirasi penduduk “kampung tengah” (orang Kalimantan dan etnis Melayu pasti paham dengan istilah ini) bisa dilakukan. Memang sih bisa disiasati dengan membungkus makanannya untuk dibawa ke kampus, tapi…ah urusan “kampung tengah” buat saya bukan sekedar rasa, namun ini tentang nuansa…(halah apa sih…).

Di salah satu sudut ruangan rumah kecil yang kami sewa, saya mulai membuka dan menghidupkan laptop. Saat itu tahun 2010, godaan untuk “mengintip” laman facebook masih sangat menggebu-gebu di hati saya, maklum selain sedang naik daun, social media ini pun jadi mainan baru yang sangat menarik buat saya. Sekarang sih sudah nggak lagi, bahkan kalau bukan karena sayang apabila harus kehilangan kontak dengan sahabat-sahabat dan kolega-kolega lama, saya sudah tutup akun itu.

Anyway, kembali ke laptop yang sudah siap menerima perintah saya, maka perintah pertama yang saya berikan adalah buka file explorer dan klik beberapa jurnal yang sudah sempat diunduh. Beberapa halaman terbaca, namun sepertinya ada referensi menarik di jurnal itu yang perlu saya unduh juga. Sesaat kemudian browser saya luncurkan dan mulai mencari, sambil secara sadar dan seakan-akan sudah jadi SOP (Standard Operating Procedure) bahwa nggak pas kalau sudah mampir ke browser tapi laman facebook nggak dibuka…hehehehe. Alih-alih segera mengunduh, mata saya malah tertuju ke postingan facebook seorang sahabat. Sudah ada beberapa komentar terhadap postingannya itu. Entah kenapa saya tiba-tiba terfokus pada kata “fundamentalis” yang disematkan dalam komentar temannya untuk mendeskripsikan perilaku beberapa kelompok yang sering berbuat teror dan kekerasan atas nama Islam.

“Fundamentalis”, mata saya masih terpaku pada kata itu. Kata ini sudah sering saya baca di berbagai tulisan sejak lama, namun baru saat itu tiba-tiba terlintas di benak saya, hey…hey…wait a minute…fundamentalis itu bukankah secara sederhana lebih pas didefinisikan sebagai orang-orang yang berusaha melaksanakan ajaran-ajaran mendasar (fundamental) dalam Islam? Kalau bukan seperti itu artinya, lantas orang-orang yang melaksanakan ajaran-ajaran mendasar (fundamental) dalam Islam mau kita sebut sebagai apa?

Sepertinya pertanyaan yang muncul di benak saya ketika itu memunculkan keterangan yang mirip dengan kondisi cuaca saat itu, bahwa apa yang tampak tidak menjelaskan secara benar keadaan yang sesungguhnya. Rukun Iman dan Rukun Islam merupakan panduan mendasar bagi seorang muslim dalam menjalankan keyakinannya. Kedua rukun tersebut tidak hanya berdimensi vertikal yang hanya melulu tentang hubungan seseorang dengan penciptanya, atau biasa disebut “hablumminallah”. Tapi lebih jauh, tentang implikasinya terhadap perilaku pribadi seorang muslim dalam berinteraksi yang diharapkan senantiasa membawa kesejukan, kedamaian, serta manfaat bagi alam semesta dan segala isinya.

Sederhana? Ya, ulasan dangkal saya memang terlalu sederhana jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan filosofis sampai berhalaman-halaman hanya membahas tentang Islam dan Fundamentalisme. Tapi memang pemahaman itulah yang saya peroleh ketika membaca hadits berikut:


“Dari Umar radhiyallahu `anhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada (Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam) seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu“, kemudian dia berkata, “anda benar“. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan aku tentang Iman“. Lalu beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“, kemudia dia berkata, “anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau….” (Riwayat Muslim)


Syarah hadits ini mengungkapkan bahwa apa yang ditanya oleh malaikat Jibril, yang datang dalam bentuk menyerupai manusia kepada Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam, merupakan pokok-pokok ajaran Islam.

Lantas kenapa begitu banyak orang menggunakan kata “fundamentalis” sebagai representasi kata untuk mendeskripsikan perbuatan yang dianggap mengganggu ketenteraman dan kedamaian? Faktor utama adalah kegagalan kita sebagai individu dan kelompok untuk memahami, menyuarakan dan mempertontonkan bahwa menjadi seorang fundamentalis dalam beragama justru akan membawa keberkahan untuk alam semesta dan seisinya. Kegagalan yang bisa membuat orang takut untuk taat beragama dengan argumen tidak mau dibilang fanatik dan tidak ingin disebut fundamentalis.

Mulailah bersikap dengan berkata saya seorang fundamentalis karena saya bersyahadat, menegakkan shalat 5 waktu, melaksanakan puasa, menunaikan zakat, dan (bercita-cita) pergi haji. Saya seorang fundamentalis, oleh sebab itu saya ingin berbakti kepada kedua orang tua, menghormati sesama manusia, dan tidak suka berbuat kerusakan di muka bumi. Saya seorang fundamentalis karena saya ingin kehidupan yang sementara ini berakhir dengan manis.

Wallahu A’lam bish-showab