BISMILLAH

  • Published: Sunday, 04 February 2018 10:40

Oleh: Khaeruddin

Sejak kecil kita disuruh baca Bismillah sebelum melakukan sesuatu namun kita tidak tahu apa manfaatnya. Para ustadz dan da’i senantiasa menyampaikan perlunya baca Bismillah sebelum melakukan sesuatu. Dalam hadis dan kisah-kisah religious, pun demikian bahkan para dukun dan paranormal sering menyebut Bismillah sebagai mantra dan senjata yang ampuh mengatasi berbagai masalah. Mau kaya dan murah rezeki, melariskan dagangan, lulus ujian, sembuh dari penyakit, pakai saja Bismillah. Ada yang menganjurkan untuk membacanya puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali. Ada pula yang menganjurkannya untuk ditulis di selembar kertas atau secarik kain untuk dijadikan jimat. Pokoknya ada banyak cerita tentang kesaktian Bismillah.

Lalu apa keistemewaan Bismillah? Setelah membaca beberapa sumber dan merenungkan maknanya, ada tiga hikmah yang terkandung dalam anjuran membaca 'Bismillah'.

Bismillah menunjukkan kesungguhan dan keikhlasan kita bahwa apa yang kita kerjakan semata lillahi ta’ala. Apa yang kita lakukan semata untuk mengabdi pada-Nya. Hal ini sejalan dengan tujuan penciptaan manusia: wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduuni. Maka segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya hanyalah untuk mengabdi kepada-Nya. Jika kita bekerja mencari nafkah maka dengan Bismillah kita sadar sepenuh-Nya bahwa harta yang kita kejar adalah untuk kepentingan kita dan keluarga mempertahankan hidup yang dilandasi dengan niat beribadah kepada-Nya. Dengan menyebut Bismillah, kita juga menyadari sepenuhnya bahwa sebagian dari harta yang kita miliki ada hak yang harus disisihkan untuk kemaslahatan orang lain yang membutuhkan.

Bismillah mengandung permohonan do’a, restu, harapan dari Allah SWT. Setiap yang kita kerjakan, meskipun telah direncanakan dengan baik, terkadang tidak berjalan sesuai rencana. Ada saja hal yang tidak disangka-sangka di luar perhitungan kita, kadang kita menyebutnya faktor X, tiba-tiba datang begitu saja dalam sekejap dan mengubah apa yang sudah kita perhitungkan. Tidak ada yang bisa menyangka, misalnya ketika kita dalam perjalanan mengendarai mobil tiba-tiba ditimpa pohon tumbang atau disambar petir atau proyek yang kita jalankan akhirnya gagal. Untuk hal-hal seperti inilah kita hanya bisa berpasrah pada Sang Pencipta atas segala takdir yang telah ditetapkan-Nya. Dengan Bismillah diawal tindakan kita menaruh harapan dan do’a bahwa apa yang kita lakukan dalam pengawasan-Nya dan jika kelak gagal kita akan berpasrah bahwa semua-Nya sudah menjadi kehendak-Nya. Pasti ada hikmah dibalik peristiwa itu.

Bismillah melindungi diri dari perbuatan yang tidak diridhai Allah Swt. Jika ‘Bismillah’ kita ucapkan dengan sungguh-sungguh, insyaallah kita tidak mungkin akan melakukan perbuatan jahat. Dengan menyebut nama Tuhan sebelum melakukan sebuah perbuatan, maka kita akan sadar dengan sepenuh-Nya bahwa apa yang akan kita lakukan dilihat oleh-Nya. Karena perbuatan itu dilihat oleh Allah maka kita semestinya takut jika apa yang akan kita lakukan itu tidak diridhai oleh-Nya.

Mari kita membiasakan diri ‘membaca’ Bismillah dalam mengawali segala aktivitas kita.

Wallahu a’lam.

Khaeruddin

Write comment (0 Comments)

Dialog Senja tentang Agama

  • Published: Saturday, 03 June 2017 02:33

Oleh Arif Budi Rahman 

Sore yang muram. Hujan menyergap semenjak pagi. Suhu dibawah sepuluh. Namun terasa lebih menusuk karena saya baru datang dari Jakarta yang selalu bersuhu di atas tiga puluh. Terlebih lagi, ini kali pertama saya merasai winter. Saat itu saya tengah di dapur memasak mie rebus. Sebuah kemewahan kecil di tengah keterasingan jenis makanan tanah air. Menunggu air matang, saya duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur, memandangi limpasan air hujan di kaca. Kolam renang di balik pagar agak jauh di sana, nampak bagai bejana tua, beku dan kaku. Begitu siap santap, sembari menikmati hangat uap sedap nan mantap, teringat betapa jarang saya bisa mensyukuri se-porsi mie instan di tanah air sendiri. Karena semua telah membiasa. Ini sungguh sebuah senja yang kaya.

Read more ...
Write comment (0 Comments)

Adab – Beradab – Peradaban Islam

  • Published: Friday, 17 February 2017 04:11

Oleh: Neni Mariana

 

“Ummi….huaaa”, terdengar suara tangisan Hafshah dari ruang tidurnya. Rupanya dia sudah bangun. “Ummi…adek sudah bangun”, kata Sarah sambil menggeliat dari balik selimutnya. “Okay, I’m coming”, aku segera menghentikan aktivitas potong memotong sayuran di dapur untuk persiapan memasak pagi ini.

 Segera kuhampiri dua kakak beradik itu. Kupeluk satu per satu dan kuberi ciuman selamat pagi. Bau original anak-anak balita sangat khas menyeruak masuk ke hidungku. Tak sadar aku nyengir menikmatinya. “Ouw…anak-anak Ummi sudah pada bangun. Sudah baca doa bangun tidur?”. Sarah langsung menyahut nyaring, “Alhamdulillahi ladzii ahyaanaa ba’da maa ama tanaa wailaihinnusyuur”.

 [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari no. 6325)

Read more ...
Write comment (0 Comments)

NIck, Fiona & Dialog Antar Iman

  • Published: Monday, 16 January 2017 07:49

Oleh: Agung W. Subiantoro

 

So, how many times you have to do it in a day?”, tanya lelaki itu tiba-tiba setelah aku keluar kompleks Lab Sains & mendekatinya.

Namanya Nick, - Nick Srbinovski - lengkapnya. Lelaki berusia 64 tahun itu adalah salah satu rekan kerjaku (saat masih) jadi staf di Dept of Education di Rossmoyne Senior High School. Sebab penasaran dengan nama belakangnya, di satu kesempatan ngobrol pernah kutanya asalnya. Dia mengaku kalau dirinya asli dari tanah bekas Federasi Yugoslavia. Seperti halnya sebagian besar imigran dari India, Afrika, Mauritius, atau lainnya, dia mengungsi ke Western Australia ini jelas untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Tapi latar belakang pengungsiannya tidak sesederhana alasan kesejahteraan (baca: kemiskinan) selaiknya komunitas lain yang kusebut tadi. Ini jauh lebih signifikan: perang! Ya, dia adalah satu di antara banyak manusia di semenanjung Balkan yang harus jadi korban perang yang berkecamuk di periode 90-an.

Read more ...
Write comment (0 Comments)

Ilmu Agama dan Ilmu Dunia: Two Sides of the Same Coin

  • Published: Saturday, 10 December 2016 23:26

Oleh: Muhlisin Rasuki

 

Seperti biasa, pagi itu cerah. Aku mengendarai sepeda motor ku menuju kampus tempat dimana aku bekerja. Dan seperti biasa pula, sesampainya di kampus aku menuju ruang dosen untuk bertemu dan mengobrol dengan teman-teman ku disana. Namun tak seperti biasanya, kami saat itu mengobrol tentang salah suatu hal yang cukup pelik, yakni tentang ‘hubungan antara otak dan pikiran manusia dengan fungsi refleks organ tubuh yang meliputi receptive dan productive functions’. SubhanAlloh, hal-hal yang nampak sederhana seperti auditory perception, vision, dan first language production, etc. merupakan serangkaian proses yang sangat kompleks, dan meskipun telah dikaji dan diteliti selama berabad-abad lamanya belum ada satu kesimpulan definitif yang mampu menjelaskan secara pasti bagaimana dan apa yang mendasari terjadinya berbagai proses tsb.

Read more ...
Write comment (0 Comments)

Saya Seorang Fundamentalis

  • Published: Saturday, 12 November 2016 12:19

Oleh: Ilham Hadiana

Seperti biasa, pagi itu cuaca sangat cerah untuk sekedar dilihat dari bagian dalam jendela rumah. Namun untuk pergi keluar? No thanks… Saya lebih memilih membaca-baca jurnal dan menuangkan ide tulisan untuk thesis saya di rumah. Bukan melulu karena saya “anak rumahan” tapi karena cuaca di Birmingham UK, tempat saya mencari ilmu pada saat itu, cenderung menipu. Kalau kata teman tampilan cuaca itu “screensaver” doang, bahkan ada teman yang dikomentari sombong banget seakan-akan mau nunjukin “mentang-mentang lagi di Eropah” (eh tapi sekarang sudah bukan ya?) gara-gara memajang fotonya di facebook yang tengah berpakaian jaket tebal padahal background-nya cahaya matahari yang mengkilat. Ya, memang untuk urusan cuaca disana, apa yang tampak tidak menjelaskan secara benar keadaan yang sesungguhnya. Sepanjang tahun selama disana (kecuali 2 pekan saja saat summer) saya harus keluar rumah dengan atribut jaket tebal, kaos kaki, dan sepatu meskipun tampilan cuacanya seperti yang saya deskripsikan tadi.

Read more ...
Write comment (0 Comments)