Dialog Senja tentang Agama

  • Published: Saturday, 03 June 2017 02:33

Oleh Arif Budi Rahman 

Sore yang muram. Hujan menyergap semenjak pagi. Suhu dibawah sepuluh. Namun terasa lebih menusuk karena saya baru datang dari Jakarta yang selalu bersuhu di atas tiga puluh. Terlebih lagi, ini kali pertama saya merasai winter. Saat itu saya tengah di dapur memasak mie rebus. Sebuah kemewahan kecil di tengah keterasingan jenis makanan tanah air. Menunggu air matang, saya duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur, memandangi limpasan air hujan di kaca. Kolam renang di balik pagar agak jauh di sana, nampak bagai bejana tua, beku dan kaku. Begitu siap santap, sembari menikmati hangat uap sedap nan mantap, teringat betapa jarang saya bisa mensyukuri se-porsi mie instan di tanah air sendiri. Karena semua telah membiasa. Ini sungguh sebuah senja yang kaya.

Read more ...
Write comment (0 Comments)

Adab – Beradab – Peradaban Islam

  • Published: Friday, 17 February 2017 04:11

Oleh: Neni Mariana

 

“Ummi….huaaa”, terdengar suara tangisan Hafshah dari ruang tidurnya. Rupanya dia sudah bangun. “Ummi…adek sudah bangun”, kata Sarah sambil menggeliat dari balik selimutnya. “Okay, I’m coming”, aku segera menghentikan aktivitas potong memotong sayuran di dapur untuk persiapan memasak pagi ini.

 Segera kuhampiri dua kakak beradik itu. Kupeluk satu per satu dan kuberi ciuman selamat pagi. Bau original anak-anak balita sangat khas menyeruak masuk ke hidungku. Tak sadar aku nyengir menikmatinya. “Ouw…anak-anak Ummi sudah pada bangun. Sudah baca doa bangun tidur?”. Sarah langsung menyahut nyaring, “Alhamdulillahi ladzii ahyaanaa ba’da maa ama tanaa wailaihinnusyuur”.

 [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari no. 6325)

Read more ...
Write comment (0 Comments)

NIck, Fiona & Dialog Antar Iman

  • Published: Monday, 16 January 2017 07:49

Oleh: Agung W. Subiantoro

 

So, how many times you have to do it in a day?”, tanya lelaki itu tiba-tiba setelah aku keluar kompleks Lab Sains & mendekatinya.

Namanya Nick, - Nick Srbinovski - lengkapnya. Lelaki berusia 64 tahun itu adalah salah satu rekan kerjaku (saat masih) jadi staf di Dept of Education di Rossmoyne Senior High School. Sebab penasaran dengan nama belakangnya, di satu kesempatan ngobrol pernah kutanya asalnya. Dia mengaku kalau dirinya asli dari tanah bekas Federasi Yugoslavia. Seperti halnya sebagian besar imigran dari India, Afrika, Mauritius, atau lainnya, dia mengungsi ke Western Australia ini jelas untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Tapi latar belakang pengungsiannya tidak sesederhana alasan kesejahteraan (baca: kemiskinan) selaiknya komunitas lain yang kusebut tadi. Ini jauh lebih signifikan: perang! Ya, dia adalah satu di antara banyak manusia di semenanjung Balkan yang harus jadi korban perang yang berkecamuk di periode 90-an.

Read more ...
Write comment (0 Comments)

Ilmu Agama dan Ilmu Dunia: Two Sides of the Same Coin

  • Published: Saturday, 10 December 2016 23:26

Oleh: Muhlisin Rasuki

 

Seperti biasa, pagi itu cerah. Aku mengendarai sepeda motor ku menuju kampus tempat dimana aku bekerja. Dan seperti biasa pula, sesampainya di kampus aku menuju ruang dosen untuk bertemu dan mengobrol dengan teman-teman ku disana. Namun tak seperti biasanya, kami saat itu mengobrol tentang salah suatu hal yang cukup pelik, yakni tentang ‘hubungan antara otak dan pikiran manusia dengan fungsi refleks organ tubuh yang meliputi receptive dan productive functions’. SubhanAlloh, hal-hal yang nampak sederhana seperti auditory perception, vision, dan first language production, etc. merupakan serangkaian proses yang sangat kompleks, dan meskipun telah dikaji dan diteliti selama berabad-abad lamanya belum ada satu kesimpulan definitif yang mampu menjelaskan secara pasti bagaimana dan apa yang mendasari terjadinya berbagai proses tsb.

Read more ...
Write comment (0 Comments)

Saya Seorang Fundamentalis

  • Published: Saturday, 12 November 2016 12:19

Oleh: Ilham Hadiana

Seperti biasa, pagi itu cuaca sangat cerah untuk sekedar dilihat dari bagian dalam jendela rumah. Namun untuk pergi keluar? No thanks… Saya lebih memilih membaca-baca jurnal dan menuangkan ide tulisan untuk thesis saya di rumah. Bukan melulu karena saya “anak rumahan” tapi karena cuaca di Birmingham UK, tempat saya mencari ilmu pada saat itu, cenderung menipu. Kalau kata teman tampilan cuaca itu “screensaver” doang, bahkan ada teman yang dikomentari sombong banget seakan-akan mau nunjukin “mentang-mentang lagi di Eropah” (eh tapi sekarang sudah bukan ya?) gara-gara memajang fotonya di facebook yang tengah berpakaian jaket tebal padahal background-nya cahaya matahari yang mengkilat. Ya, memang untuk urusan cuaca disana, apa yang tampak tidak menjelaskan secara benar keadaan yang sesungguhnya. Sepanjang tahun selama disana (kecuali 2 pekan saja saat summer) saya harus keluar rumah dengan atribut jaket tebal, kaos kaki, dan sepatu meskipun tampilan cuacanya seperti yang saya deskripsikan tadi.

Read more ...
Write comment (0 Comments)