Kisah Nasrudin dan Keledainya

Pada suatu jaman, ketika kekhalifahan Turki masih berjaya, hiduplah seorang sufi yang bernama Nasrudin. Suatu hari, Nasrudin mengalami kesulitan keuangan dan harta satu satunya yang dimiliki dan bisa dijual tinggallah seekor keledai kepunyaannya, maka dituntunlah keledainya ke pasar bersama anak lelakinya yang berumur 12 tahun.

Belum jauh bapak dan anak ini meninggalkan rumahnya menuju pasar, bertemu lah mereka dengan beberapa orang. Dimana orang orang itu berkata sambil mencibir  “hai teman-teman, lihatlah bapak dan anak yang menuntun keledainya itu. Betapa bodoh dan tololnya mereka, masa keledai dituntun begitu saja, bukankah  mereka bisa menaiki keledai tersebut agar tidak lelah?”.  Mendengar cemoohan itu kemudian Nasrudin pun bersama anaknya menaiki keledai tersebut.  Berselang tak lama dari kelompok pertama tadi si bapak dan anak ini ini bertemu dengan serombongan ibu-ibu yang berbisik-bisik namun dengan suara yang dikeraskan hingga bisikannya pun terdengar oleh Nasrudin dan anaknya  “Masya’ Allah benar-benar keterlaluan mereka berdua itu, keledai yang badannya lebih kecil dari kuda dinaiki oleh dua orang pria yang badannya tegap. Kasihan keledai tersebut ya, kalau mau naik harusnya cukup satu orang saja”. Mendengar bisik bisik itupun, Nasrudin turun dari keledai namun anaknya tetap naik keledai.

Setelah beberapa lama dia menuntun keledai dan anaknya berada diatas punggung keledai, mereka bertemu dengan sekelompok orang lain lagi yang lagi lagi mereka juga mengunjing Nasrudin  “benar-benar anak kurang ajar, masa dia enak-enak naik keledai sedangkan bapaknya disuruh jalan menuntun keledai?”. Mendengar gunjingan itupun, akhirnya si anak lelaki Nasrudin turun dari punggung keledai dan menuntun si keledai, sedangkan Nasrudin yang gantian menaiki keledai. Setelah beberapa lama berjalan, kali ini mereka berdua melewati daerah pemukiman, kembali di pemukiman itu mereka  mendengar kata kata yang kurang mengenakkan yang datang dari beberapa penjuru pemukiman itu “hey kawan-kawan, lihatlah bapak yang tidak tahu malu, sementara dia naik keledai anaknya disuruh menuntun keledai”.

Mendengar cacian penduduk di daerah pemukiman itu, Nasrudin pun  turun  dari punggung keledai dan sang anak pun bertanya " bapak apa yang harus kita lakukan?" spontan saja Nasrudin meminta anaknya untuk bersama sama menggendong keledai tersebut. Namun tak ayal sontak begitu sampai di pasar mereka ditertawakan orang orang ,”hahahaha, lihatlah kedua bapak anak yang bodoh itu, masa keledai digendong, harusnya kan dinaiki atau dituntun”.

Hikmah yang bisa kita pelajari dari kisah Nasrudin diatas adalah dalam hidup ini janganlah kita terlalu mendengarkan omongan orang karena tidak akan ada habisnya omongan orang yang kita dengar yang kemudian akan mendorong kita untuk berbuat menuruti omongan orang. Padahal belum tentu semua omongan tersebut benar adanya.  Wallahua'lam bishowab semoga kita bisa memetik ibrah dari cerita diatas